Site icon Catatan Ludy

Secuil Kisah Ramadhan di Masa Kecil

Bulan ramadhan, merupakan salah satu bulan yang selalu dinantikan oleh banyak orang. Didalamnya, terdapat banyak kemuliaan serta ampunan beserta nikmat tiada tara. Bagi saya, ramadhan selalu identik dengan hal-hal yang teramat manis dan menarik. Rasa-rasanya pun sangat sulit jika tiap momennya terlewatkan begitu saja.

Sejak kecil, saat saya belum betul-betul memahami apa itu ramadhan. Selalu saja terbawa hanyut dalam euforianya yang tak terbatas. Bagi saya banyak hal identik didalamnya yang dapat membuat saya rindu. Rindu akan kebersamaan, makanan saat berbuka, menemani nenek tarawih, catat tausiah plus minta tanda tangan ustad, termasuk didalamnya berbagai tayangan sinetron dan iklan musiman yang hadir menyemarakan ramadhan kala itu. Sungguh, terlalu manis untuk diingat dan dirasakan.

Pictured by pixabay.com

Akan tetapi, saat mengingat masa itu. Tersimpan sedikit rasa penyesalan dalam hati. Sedih, mengapa ketika masih kecil saya tidak bisa memaksimalkan diri untuk beribadah saat ramadhan. Mengingat, kesibukan di usia dewasa saat ini yang begitu sering menyita banyak waktu. Entah, andai saja masa kecil saya tidak terlewati begitu saja dengan berbagai lelucon dan hal-hal tidak penting. Mungkin kini, fisik dan hati saya akan lebih mudah terlatih untuk beribadah.

Dan, mungkin saja saya akan lebih lihai dalam hal manajemen waktu.

Tapi, yasudahlah. Tiada guna berandai-andai. Namun, kembali lagi untuk mensyukurinya. Bahwa ramadhanku kala itu penuh dengan kesenangan yang sangat mengesankan. Memahaminya, menerimanya lalu menjalaninya dengan ikhlas adalah bekal terbaik yang kumiliki saat itu hingga kini saat dewasa.

Memahami bahwa ramadhan adalah bulan yang selalu dirindukan kehadirannya. Bahkan, ketika dia ingin pergi. Maka, sulit rasanya untuk dapat melepasnya begitu saja.

Menerimanya dengan ikhlas segala syarat dan aturan didalamnya saat menunaikan ibadah puasa. Mencoba menerimanya dengan sabar dan tanpa keluhan. Meski raga meraung-raung karena lapar dan haus.

Menjalaninya dengan hati yang ikhlas. Semata-mata karena mengharap ridhaNya. Dan, tak lupa juga mengharap adanya reward tambahan dari orang tua dan nenek kala itu, hehe.

Ahh, sungguh manis dan indah.

Dan, lebih dari itu. Bagi saya ramadhan adalah waktu terbaik untuk belajar, menempa diri sekaligus menyiapkan bekal terbaik dengan stok iman yang melimpah untuk bulan-bulan selanjutnya. Well, jadi makin greget ya rasanya, hehe.

So, inilah kisah ramadhanku saat kecil, kalau kamu? Yuk ahh, saling berbagi kisah. Semoga bermanfaat. Salam Waras!