Site icon Catatan Ludy

Bijak Bermain Media Sosial, Perempuan Wajib Tahu Ini!

Sebagai perempuan, yang dalam kesehariannya menjalani peran multitasking alias banyak peran (tsah!), baik itu sebagai istri, ibu dan juga pekerja lepas. Tentu memiliki tantangan tersendiri, terlebih mesti update selalu dalam segala hal dan memastikan diri jangan sampai ketinggalan info. So, media sosial kerap menjadi ruang diskusi dan sumber refrensi bagi emak-emak seperti saya yang butuh pencerahan, ide dan insight terkini. Khususnya, menyangkut kebutuhan keluarga di rumah (family first, yee kan!).

Oleh sebab itu, dalam menyikapi arus informasi di era digital saat ini, para perempuan tentunya mesti bijak. Yakni, bijak dalam mengelola media sosial, mencari sumber informasi terpercaya dan mampu mengatur waktu untuk ber-medsos ria. Mengingat, banyak diantara kita, termasuk anak-anak didalamya merupakan penikmat media sosial, bahkan parahnya telah menjadi pecandu dunia maya. Miris, pastinya.

Maka, sebagai perempuan yang mana juga bertugas sebagai pendidik anak-anaknya di rumah, harus mawas diri dengan membuat semacam proteksi khusus sejak dini. Sebagai sarana antisipasi kita menjaga generasi-generasi berikutnya dari ancaman kerusakan moral dan otak, duh ngeri banget kan! Naudzubillah deh, jangan sampai kerusakannya berkali-kali lipat, aamiin.

Nah, internet dan media sosial inilah yang nyatanya menjadi salah dua ancaman bagi generasi berikutnya, bilamana mereka tidak bijak dalam memanfaatkannya. Nyatanya, pada konteks ini pula perempuan punya andil serta pengaruh penting lho untuk mengontrol derasnya arus digital saat ini. Lantas, kira-kira seperti apa sih perannya? Yuk, kita simak pembahasan berikut ini.

Ibu Trisna Willy Lukman Hakim S: Saring Sebelum Sharing

Ibu Trisna Willy Lukman S Tengah Memberikan Sambutan

Pekan lalu, alhamdulillah saya berkesempatan hadir pada agenda Seminar Sehari oleh Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama RI, tentang Pengarustamaan Gender yang mengangkat tema “Perempuan dan Media Sosial: Peran Perempuan Menghadapi Pengaruh Media Sosial dalam Menjaga Ketahanan Keluarga”. Bagi saya, ini adalah tema yang amat menarik dan erat dengan kondisi masyarakat kita hari ini.

Terlebih, setelah seminar dibuka, Ibu Trisna Willy dengan tegasnya mengatakan, “Saring sebelum sharing”. Sontak, hal ini pun langsung menyadarkan para audience (termasuk saya) untuk lebih peka dalam membagikan informasi yang kerap muncul dari berbagai sumber, which is diantarnya bahkan belum tentu valid. Dalam penuturannya, beliau menjelaskan bahwa sebelum membagikan informasi ke yang lain, hendaknya kita baca terlebih dahulu, pastikan sumber beritanya dan tabayyun.

Menariknya lagi, Ibu Trisna Willy juga menambahkan bahwa saat ini yang lebih banyak menggoreskan luka di hati bukan lagi perihal lisan. Melainkan, jari-jari kitalah yang punya potensi besar dalam memicu hadirnya konflik melalui sarana media sosial. Duh, lebih bahaya dong pastinya. Makanya, enggak heran kalau jaman sekarang ini ada yang bilang, bullying di medsos rupanya lebih kejam daripada mulut tetangga.

Nah lho, kalau bagi saya pribadi dua hal ini sama-sama kejam, wkwkwkk. Tapi, memang benar lho! Kasus bullying di medsos rupanya punya potensi penyebaran lebih luas jangkauannya. Bila dibanding, mulut tetangga yang nyinyir dan jangkauan sebarannya paling cuma sampai level antar RT dan RW aja (sotoy). Dan, setelah menjelaskan panjang kali lebar, Ibu Trisna Willy pun menutup sambutannya hari itu dengan kalimat pamungkas dari suami tercinta, Bapak Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama RI. Duh, romantis banget nih bu, hehe.

Kalau sudah berani bermain media sosial, jangan baperan.

Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI.

Antara Internet dan Smartphone, Dua Hal yang Sulit Dipisahkan Hari Ini

Ibarat oksigen, internet dan smartphone bagaikan dua hal yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat hari ini. Demikianlah, penuturan dari Prof. Henry Subiakto selaku Staf Ahli Kemkominfo dalam kesempatan yang sama. Saat itu juga, beliau menambahkan bahwa keberadaan dunia maya saat ini dapat merubah segalanya. Bahkan, setiap orang bisa menjadi pembuat berita dengan perangkat gadget yang mereka miliki.

Lantas, dari sini saya dapat menilai bahwa ada pergeseran nilai yang terjadi sejak dulu hingga kini. Dimana, orang-orang yang bekerja membuat berita sebagai wartawan, mesti mendapatkan pelatihan terlebih dahulu sebelum akhirnya terjun ke lapangan untuk melakukan investigasi dan membuat berita. Namun kini, justru berbeda. Tingginya akses teknologi digital rupanya mendukung tiap orang untuk bisa menjadi ‘jurnalis dadakan’. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang cyber crime, maraknya radikalisme dan isu-isu menarik lainnya dalam dunia digital saat ini.

Prof. Henry Subiakto Tengah Memaparkan Materi

Tak kalah menarik dengan materi sebelumnya, seminar ini juga menghadirkan Erick Mubarok selaku Praktisi Media Sosial. Pada penjelasannya kali ini, ada satu fakta penting yang beliau sampaikan, yakni kaum lelaki dinyatakan sebagai pengguna internet paling aktif. Hal ini bisa terlihat dari tingginya minat games online yang umumnya didominasi oleh kaum lelaki.

Erick Mubarok, Praktisi Media Sosial

Disamping itu, dalam kesempatan ini pula, Erick, biasa ia disapa, juga membagikan tips aman bagi anak-anak saat berselancar di dunia maya. Antara lain:

Dan, jangan lupa. Beliau juga mengingatkan kepada seluruh orang tua untuk membuat setting khusus akun Youtube bagi ananda di rumah yang hobi menonton. Hal ini, sebagai salah satu proteksi awal kita sebagai orang tua untuk menghindarkan anak-anak dari pengaruh konten negatif yang nirfaedah.

Peran Ibu Dalam Menghadapi Pengaruh Media Sosial Bagi Pendidikan Anak, Seperti Apa Sih?

Ibu Rahmi Dahnan, Psikolog

Pada sesi terakhir, hadir seorang psikolog wanita bernama Ibu Rahmi Dahnan yang membuat saya terharu hingga meneteskan air mata. Tiap kata-katanya seolah memiliki makna dan kekuatan tersendiri, yang akhirnya mendorong ingatan saya pada pola asuh si kecil di rumah.

Dengan seksama, saya pun memperhatikan baik-baik tiap pemaparan beliau. Saat dimulai, pertama kali beliau menjelaskan tentang fenomena keluarga Indonesia saat ini. Dimana, sebagian besar anak sudah memiliki atau memegang gadget sebelum kemampuan berpikirnya berkembang dan saat kondisi ini terjadi kebanyakan orang tua pun abai. Sehingga, saat anak-anak ini berkumpul dengan teman sebaya lainnya mereka saling bagi games dan informasi.

Padahal, merujuk data Biro Pusat Statistik di Indonesia, menyebut ada sekitar 80% juta anak sudah pernah mengakses pornografi. Dan, yang paling tinggi, diketahui pada tahun 2014 lalu terhitung ada sekitar 26 juta anak yang sudah terpapar pornografi. Miris banget, hiks. Terlebih, banyaknya dampak negatif yang akan terjadi dari adanya akses pornografi itu sendiri, antara lain:

Dan, dari dampak ini, beliau menambahkan bahwa situasi ini juga dapat diperparah dengan adanya fenomena saat ini, dimana kebanyakan pasangan tidak siap menjadi orang tua dan mirisnya mereka tidak memiliki tujuan pengasuhan. Sehingga dalam mendidik para orang tua ini abai dan dengan mudahnya menyerahkan pengasuhan serta pendidikan anak kepada orang lain. Khususnya, pada pendidikan agama, dimana agama menjadi kunci utama dalam membentuk akhlak seorang anak dan semestinya didapatkan langsung dari orang tua mereka. Jujur, mendengar ini air mata saya makin merembes dong buuuk!

Dan, sebelum ditutup, Ibu Rahmi Dahnan juga membagikan tipsnya untuk para audience terkait tips praktis mengawasi anak saat bermain media sosial, yaitu:

By the way, dari empat pembicara ini, saya pribadi dapat menyimpulkan 3 peran penting yang wajib dimiliki para perempuan dalam bermedia sosial. Terlebih, sebagai perempuan kita mesti sadar bahwa pengaruh kita dalam bermedsos dapat menjadi sarana dalam mendidik anak-anak untuk lebih bijak dalam bermain internet dan media sosial. Kira-kira apa saja sih? ini dia selengkapnya…

  1. Controlling: Perempuan mesti bisa mengontrol penggunaan medsos dan internet, baik untuk diri mereka sendiri maupun dalam ruang lingkup keluarga dan masyarakat.
  2. Filtering: Cerdas dalam memilah dan menyaring info yang beredar, dengan selalu memastikannya baik itu melalui refrensi yang terpercaya dan orang yang bersangkutan (tabayyun). Sehingga, dapat meminimalisir maraknya peredaran HOAX.
  3. Educating: Ini sangat penting, derasnya arus digital saat ini mestinya kita memanfaatkannya sebagai sarana edukasi dalam mendidik anak-anak agar terasa lebih mudah dan menyenangkan.

Gimana gaes, materi kali ini berasa banget ya ‘dagingnya’. Well, semoga bermanfaat yaa, SALAM WARAS!

Blogger Crony Squad