Site icon Catatan Ludy

Emak: Siaga 1 Awasi Si Kecil

Maraknya kasus penculikan anak akhir-akhir ini rupanya berdampak langsung terhadap tingkat kekhawatiran emak-emak. Jika hal ini terus berlangsung, emak akan terus waspada mengawasi si kecil dimanapun dan kapanpun.

Ngeri. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya terkait munculnya modus-modus baru penculikan anak yang beberapa pekan ini ramai berseliweran di media massa. Tak ayal memang, rendahnya pendidikan serta taraf hidup menjadi pemicu utama bagi sejumlah oknum untuk melakukan penculikan terhadap anak-anak di bawah umur. Mirisnya, banyak kabar burung yang juga ikut berhembus terkait penculikan tersebut. Diantaranya, anak-anak yang diculik tersebut akan dimutilasi kemudian organ tubuhnya dijual, isu perdagangan anak, memanfaatkan anak yang diculik untuk mengemis dan masih banyak lagi. Dalam hati saat mendengar kabar tersebut saya hanya bisa beristighfar dalam hati, terus memohon perlindungan Allah untuk keluarga kami, khususnya si kecil.
Sungguh menyedihkan bagi saya pribadi sebagai seorang ibu yang alhamdulillah secara langsung Allah beri kesempatan kepada saya untuk bisa merasakan proses hamil, melahirkan dan menyusui. Ironisnya, banyak pihak yang menyebut kasus penculikan ini tidak lain hanyalah sebagai pengalihan isu di tengah suasana politik yang kian memanas jelang pemilihan presiden.
Terlepas dari itu, saya sendiri tidak terlalu memaknainya sebagai pengalihan isu belaka. Melainkan, sebagai ibu yang secara kodrati memang sudah seharusnya memainkan peran utama dalam menjaga dan melindungi amanah pemberian Allah tersebut. Karena, tidak dapat saya pungkiri secara pribadi tentunya sering lalai dalam menjaga si kecil. Oleh sebab itu, melalui maraknya kasus pencurian ini nyatanya secara tidak langsung telah membuka hati dan mata saya lebar-lebar untuk lebih peka dalam mengawasi si kecil. Bahkan, saking memikirkan hal itu sampai-sampai saya terbawa mimpi karenanya. Dan, berakhir dengan tingkat kekhawatiran tinggi yakni mulai PARNO.
Dari ramainya kasus ini pula saya belajar untuk bisa lebih mawas diri dalam menjaga si kecil. Mengingat, ananda adalah titipan Allah yang wajib saya jaga dan lindungi, bahkan jika perlu sampai titik darah penghabisan. Menjaga dan merawatnya dengan sebaik mungkin, kelak akan menjadi manifestasi utama kita dalam meraih pintu surgaNya. Pasalnya, salah satu kunci dari amal jariyah ini ialah doa anak-anak saleh yang akan terus mengalir saat orang tuanya meninggalkan dunia yang fana ini.
Oleh sebab itu, hal inilah yang menjadi bahan utama saya dalam bermuhasabah sebagai seorang ibu. Mengingat, sudah sejauh mana saya merawat dan melindungi si kecil selama ini, apakah sudah maksimal atau malah terbilang kurang? Pastinya, saya harus terus belajar menjadi orang tua yang lebih baik lagi dari hari ke hari.
Last but not least, tulisan saya ini hanyalah sekadar uneg-uneg yang ingin dituangkan untuk menenangkan pikiran saya agar tidak parno dan lebay. Karena, beberapa hari ini pikiran saya cukup terganggu dengan kabar penculikan anak akhir-akhir ini. Semoga dengan soft healing ini dapat sedikit meredakan kekhawatiran saya sekaligus menyadarkan diri saya bahwa sebaik-baiknya penjagaan ialah penjagaan Allah terhadap makhlukNya. Saya sebagai ibu hanya dapat berdoa dan berikhtiar semaksimal mungkin, dan hasilnya serahkan pada Allah. Maklum, emak-emak baru beranak satu bawaannya parno terus. Bismillahi tawakkaltu ‘alallahu…
Semangaaaaat emak-emak, singsingkan lengan baju dan terus awasi jangan sampai lolos. Semoga bermanfaat.