Infertilitas Bukanlah Akhir dari Segalanya

Menikah dan berumah tangga, adalah dua hal dasar yang sudah semestinya dijalani oleh tiap pasangan suami istri. Dan, hadirnya buah hati di tengah-tengah kebahagiaan tiap pasutri adalah suatu dambaan dan impian besar yang senantiasa diperjuangkan dengan penuh ikhtiar dan doa. Bagi setiap pasangan, tentunya seringkali dihadapkan dengan berbagai pertanyaan yang cukup “menakutkan”, salah satunya tentang hadirnya momongan. Cukup menyedihkan dan agak sentimentil memang, mengingat topik tersebut terbilang agak sensitif dan dapat melemahkan posisi salah satu pihak, khususnya sang istri.

Minggu (16/12) kemarin, alhamdulillah emak berkesempatan hadir pada sebuah seminar yang diadakan di RSIA SamMarie Basra, Duren Sawit, Jakarta Timur. Dimana, dalam seminar tersebut mengangkat tema yang sangat menarik untuk disimak, yaitu “Wujudkan Impian Memiliki Buah Hati”. Wah, lihat temanya yang bagi emak menarik banget kayak gitu, bikin emak pengen siap-siap buat program hamil lagi (anak kedua), ehh, hahaha. Tapi serius, bagi emak sendiri saat mengikuti seminar ini, seolah-olah seperti tengah mengikuti perkuliahan umum materi fakultas kedokteran, dengan penyampaian materinya yang sangat jelas dan mudah dipahami. Kebayang kan pastinya, hahaha.

Next, adapun pemateri-pemateri yang hadir dalam seminar ini bukanlah orang-orang biasa. Melainkan, dokter-dokter profesional yang sangat ahli dibidangnya. Maka, enggak heran dong jika cara penyampaian materinya pun “renyah” banget dan sangat menggigit saat disimak. Dan, khusus dalam seminar kali ini, 4 orang pemateri dibagi menjadi dua sesi, yang mana tiap sesinya dibawakan oleh dua orang dokter. Pada sesi pertama dibawakan oleh dr. Rr. Niken Pudji Pangastuti, Sp.OG-KFER dan Hana Talitha Rahma, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Kemudian, pada sesi kedua diisi oleh Prof. Dr. dr. T. Z. Jacoeb, Sp.OG-KFER dan dr. Gita Nurul Hidayah, Sp.OG.

Wah, makin penasaran dong pastinya. Kira-kira materi apa saja sih yang dibahas dalam seminar tersebut? Berikut ini, ringkasan singkat dari emak untuk teman-teman semua, check this out…

Bayi tabung, pilihan alternatif dalam menjemput buah hati
Dalam hidup, tentunya ada beberapa pasutri yang tengah dilanda kecemasan, manakala sudah bertahun-tahun lamanya menikah, namun belum juga mendapatkan keturunan. Berbagai cara pun dilakukan, mulai dari cara tradisional hingga modern. Lalu, hingga akhirnya sampailah pada vonis dokter yang menyebut salah satu pihak didiagnosa MANDUL (infertilitas). Bagaikan mendengar petir di siang hari, siapapun yang mendapati dirinya dalam keadaan tersebut pasti akan dilanda kesedihan berlarut-larut. Miris memang.

Namun, dr. Rr. Niken Pudji Pangastuti, Sp.OG-KFER mengungkapkan bahwa masih ada peluang yang dapat dilakukan untuk bisa segera mendapatkan buah hati, salah satunya melalui proses rekayasa bayi tabung. Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa infertilitas atau kemandulan itu sendiri merupakan kegagalan pada salah satu pasangan untuk melakukan hubungan seksual yang benar selama 1 tahun tanpa menggunakan alat kontrasepsi. Bahkan, dr. Niken pun menambahkan, di Indonesia saat ini jumlah pasangan infertilitas telah mencapai angka 3,9 juta. Cukup fantastis bukan?

Adapun, bayi tabung atau biasa disebut Fertilisasi In Vitro/FIV merupakan salah satu cara untuk memperoleh keturunan dengan teknik pembuahan sel telur dengan spermatozoa di luar tubuh. Dalam artian, proses pembuahan antara sel telur dan spermatozoid ini dilakukan melalui tahapan inseminasi ke dalam cawan atau suntik sperma ke dalam sel telur. Kemudian, hasil dari pembuahan tersebut dieramkan di inkubator selama 3 hari. Hingga akhirnya membuahkan hasil berupa embrio yang telah berkembang menjadi 8 sel dan siap dilakukan proses pemindahan ke dalam rahim.

Oleh sebab itu, beliau menegaskan agar para pasutri yang usia pernikahannya telah menginjak 1 tahun dan tentunya tanpa menggunakan alat kontrasepsi, untuk segera berkonsultasi dengan dokter kandungan secepatnya. Terlebih, proses bayi tabung itu sendiri dilakukan setelah memperoleh hasil diagnosa terkait infertilitas dan pasutri sepakat untuk melakukan proses ini. Pemeriksaan ini penting untuk segera dilakukan, mengingat pemberian dosis obat yang berbeda-beda pada tiap kondisinya.

“Pentingnya screening awal dan pemeriksaan awal, sangat menentukan pemberian dosis obat dalam proses pelaksanaan program bayi tabung itu sendiri,” imbuhnya.

Adapun, langkah yang harus dilakukan dalam mempersiapkan program bayi tabung itu sendiri, antara lain:

  • Pemeriksaan infertilitas dasar
  • Stimulasi ovarium
  • Petik oosit (pengambilan sel telur)
  • Fertilisasi in Vitro (penyatuan sel telur)
  • Kultur embrio (pengembangan hasil telur)
  • Transfer embrio
  • Luteal support (pemberian obat)
  • Menunggu hasil.

Stress dapat menghambat proses kehamilan, benarkah?
Rasa cemas seringkali hadir melanda setiap orang. Kendati demikian, kecemasan ini seringkali dimaknai sebagai hal yang negatif. Namun, Psikolog Hana Talitha Rahma, S.Psi., M.Psi. menilai sebaliknya, bahwa rasa cemas ini memiliki fungsi yang baik, yakni dengan memberikan signal pada tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak baik dengan membuat antisipasi dan pencegahan, selama rasa cemas ini masih dalam taraf normal. Dalam artian, tidak berlebihan. Lantas, apa kaitannya dengan proses kehamilan itu sendiri?

Dalam seminar ini, beliau menuturkan bahwa rasa cemas yang berlebihan pada pasutri ini jelas akan menghambat proses kehamilan itu sendiri. Sehingga, menurutnya, pasien harus melakukan proses terapi kejiwaan terlebih dahulu, sebelum benar-benar “matang” mempersiapkan diri untuk proses kehamilan. Adapun, dampak kecemasan yang terjadi pada hubungan suami istri, yaitu: vaginismus, disfungsi ereksi, tidak percaya diri, dan membuat pasangan enggan melakukan hubungan suami istri.

“Maka dari itu, cegah dengan rubah fokus dan konsultasikan ke dokter,” tandasnya.

Selain itu, dalam seminar ini pula pihak RSIA SamMarie Basra mendatangkan salah seorang pasien yang berhasil melahirkan sepasang bayi kembar laki-laki setelah menjalani program bayi tabung pada tahun 2017 lalu. Menariknya, Ibu Widi ini telah lama mengidap gangguan hormonal berupa PCOS. Dan dengan support system yang terus diberikan oleh sang suami selama ini, Ibu Widi pun akhirnya yakin untuk menjalani program bayi tabung di RSIA SamMarie Basra. Wah, so sweet banget ya gaes.

Sesi Kedua, Sesi yang Mendebarkan
Wah, di sesi kedua ini ada banyak materi penting yang disajikan oleh dua narasumber ahli. Dan, ini perlu banget diperhatikan oleh tiap pasangan yang sangat menginginkan hadirnya buah hati. Karena, beberapa faktor ini sangat penting untuk dipahami baik-baik oleh tiap pasangan guna meningkatkan keberhasilan mereka dalam memperoleh momongan. Tanpa panjang lebar, yuk kita simak!

Sadarkah kita, ternyata munculnya infeksi saluran kemih dan kelamin pada pria dan wanita dapat menghambat terjadinya proses kehamilan itu sendiri? Pernyataan ini pun segera dibenarkan oleh dr. Gita Nurul Hidayah, Sp.OG. dalam sesi seminarnya kali ini. Menarik memang, pasalnya kedua jenis gangguan yang masing-masing berasal dari virus dan bakteri ini secara tidak langsung dapat berkontribusi menurunkan tingkat kesuburan. Sehingga, jika tidak segera ditangani dengan baik, maka hanya akan menimbulkan dampak buruk yang berkepanjangan pada si pasien.

Sementara itu, bagi wanita hamil yang tengah mengalami infeksi saluran kemih which is tidak disertai dengan penanganan khusus, maka akan berakibat buruk pada ibu hamil itu sendiri, yakni: dapat meningkatkan resiko persalinan premature dan berat bayi lahir rendah. Kemudian, adapun dampak buruk yang diakibatkan dari wanita hamil yang mengidap penyakit kelamin seperti HIV, ternyata virus HIV ini dapat ditularkan pada janin/bayi sejak dalam kandungan. Miris banget kan!

Hal senada, juga disampaikan oleh Prof. Dr. dr. T. Z. Jacoeb, Sp.OG-KFER. Dalam seminarnya beliau menyampaikan bahwa memperoleh keturunan, ibarat menanam benih. Seperti itulah analoginya, maka agar mendapatkan jenis benih (embrio) yang berkualitas hendaknya tiap pasangan memperhatikan sebaik mungkin media tumbuhnya (rahim) dan jenis perlakuan yang diberikan, which is dalam hal ini berupa screening dan pemeriksaan awal. Sehingga, penanganan yang diberikan pun sesuai dan tepat sasaran.

Beliau pun menambahkan, adapun persyaratan kehamilan bagi pasutri, antara lain:

  • Tuba Fallopii yang normal
  • Uterus dan endometrium yang normal
  • Ovulasi yang normal
  • Analisis sperma yang normal
  • Seksual yang normal
  • Peritoneum yang normal

Kendati demikian, menurut beliau di balik faktor tersebut nyatanya ada sejumlah hal yang dinilai tidak dapat memungkinkan terjadinya proses kehamilan itu sendiri, salah satunya yaitu masalah infertilitas atau kemandulan. Oleh sebab itu, dibutuhkan penanganan secepatnya pada kondisi infertilitas ini, mengingat tujuan utamanya ialah untuk: memperbaiki mutu sel benih (gamet), meningkatkan jumlah gamet, dan memudahkan interaksi gamet.

Dari hal itu, beliau pun kembali mengingatkan bahwa segala sesuatu yang hadir dan hidup hendaknya seutuhnya dikembalikan kepada Allah. Karena, sejatinya manusia hanya bisa berencana namun Allah lah yang menentukan. Meskipun, dalam hal ini banyak didukung oleh berbagai alat teknologi canggih di bidang kedokteran.

“Tetapi, jika Allah tidak berkehendak janin itu hadir, bisa apa kita?” tukasnya.

Tentang RSIA SamMarie Basra
Rumah sakit yang dibangun atas tekad melayani dan menyediakan layanan kesehatan terbaik di Indonesia untuk anak dan wanita ini didirikan pada tahun 2009 dan beroperasi pada tahun 2010. Dibawah naungan Prof. Dr. dr. T. Z. Jacoeb, Sp. OG-KFER dan Dr. dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb, Sp. KK (K), RSIA SamMarie Basra ini terus melakukan pembenahan dan berupaya meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan efisien bagi masyarakat luas, yang tentunya menerapkan standar mutu internasional.

Dan, yang menjadikan RSIA SamMarie Basra ini menarik adalah Rumah sakit ini memfokuskan diri pada bidang fertilitas dan ginekologi. Kendati demikian, RSIA SamMarie Basra ini juga menyediakan layanan kesehatan lainnya, yaitu Kedokteran Umum, Gizi Klinik, Kulit dan Kelamin, Penyakit Dalam, Pediatri, Endokrinologi dan masih banyak lagi.

Oh iya, untuk lokasinya sendiri, RSIA SamMarie Basra ini terletak di Jl. Jenderal Basuki Rachmat No.31, RT.3/RW.2, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur 13430. Wah, enggak terlalu jauh lah yaa dari rumah emak, hihii.

Potret bahagia para narasumber dan peserta yang memenangkan hadiah doorprize

Closing…
Finally, emak cukupkan sampai segini dulu yaa penjelasannya. Mohon maaf jika informasi yang disajikan kurang lengkap atau malah terlihat “gaje” hehee. Semoga bisa memberikan sedikit manfaat dan inspirasi untuk teman-teman semua, khususnya bagi yang sedang merencanakan kehamilan, good luck yaa. See you next time, salam waras!

Sharing is caring!

One thought on “Infertilitas Bukanlah Akhir dari Segalanya

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares