Transisi Energi, Upaya Bijak Lestarikan Langit Agar Tetap Biru

efek-gas-rumah-kaca

Guna meminimalisir dampak perubahan iklim yang terjadi, transisi energi menjadi upaya bijak untuk mewujudkan mitigasi terhadap bumi. Lantas, seperti apa?

Lagi kangen Jogja dengan langit birunya yang cantik di pagi hari, asliii bener-bener ngangenin deh. Tapi apa jadinya, jika langit biru ini justru tampak kelabu akibat selimut polusi yang mengudara, lantaran Gas Rumah Kaca yang menjadi pemicu utama, hingga langit berselimutkan polusi. Miris sekali rasanya.

Adapun, salah satu upaya yang bisa kita terapkan ialah dengan melakukan transisi energi dalam kehidupan sehari-hari. Upaya ini penting dilakukan lho, guna mengikis selimut polutan (efek GRK) yang menyelimuti atmosfer bumi demi mencegah timbulnya bahaya lingkungan.

Lalu, seperti apa caranya?

Hal inilah yang kemudian kembali diingatkan oleh Traction Energy Asia, melalui diskusi beberapa waktu lalu bersama teman-teman Eco Blogger Squad. Pemaparan yang disampaikan oleh Kak Fariz Panghegar amatlah menggelitik kesadaran saya untuk turut serta melestarikan langit agar tetap biru dengan udaranya yang sejuk dan bebas polusi.

Lantas, seperti apa cara bijak yang bisa kita upayakan melalui transisi energi ini? Selengkapnya, yuk lanjut!

Transisi Energi, Perlukah?

global warming
Credit by pexels.com

Seperti yang dijelaskan oleh Kak Fariz pada pertemuan lalu bersama teman-teman #EcoBloggerSquad. Transisi Energi adalah sebuah upaya untuk mengurangi penggunaan energi fosil dengan energi non fosil yang rendah polusi dan emisi gas rumah kaca.

Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari-hari konsumsi bahan bakar kendaraan dari energi fosil, pelan-pelan mulai digantikan dengan energi “sebagian fosil”. Begitu juga dengan konsumsi listrik dari energi fosil, mulai coba dialihkan ke energi non fosil.

Terlebih, dalam hal ini, Transisi energi dianggap menjadi solusi utama untuk mengurangi emisi global. Hal tersebut dikarenakan suplai energi global untuk kebutuhan listrik dan transportasi selama ini masih disumbang oleh bahar bakar fosil, yang merupakan penyumbang terbesar emisi global dan perubahan iklim [Natural Resource Defense Council, 2021].

Ini semua penting untuk dilakukan. Mengingat, penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil rupanya makin meningkat jumlahnya. Belum lagi, penggunaan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik selama ini diperoleh dari kegiatan pembabatan hutan guna menghasilkan sumber energi. Alhasil, dampak yang ditimbulkan pun sangat berakibat fatal bagi bumi. Yang mirisnya lagi, muncul gas efek rumah kaca (GRK) yang menyelimuti atmosfer bumi.

Adapun, dampak dari GRK, yaitu:

  • Naiknya kumpulan polusi yang menyelimuti atmosfer bumi
  • Perlahan meningkatkan suhu permukaan bumi (global warming) dan menyebabkan perubahan cuaca secara luas dalam jangka waktu yang panjang (perubahan iklim)
  • Perubahan iklim menyebabkan terjadinya bencana lingkungan

Semua dampak yang kita rasakan saat ini, otomatis terjadi secara berkesinambungan antar makhluk hidup di muka bumi hingga mempengaruhi aspek rantai makanan, lho! Sehingga, upaya transisi energi ini penting dilakukan untuk mengikis selimut polutan (efek GRK) yang menyelimuti atmosfer bumi guna melindungi bumi dari berbagai ancaman lingkungan.

Transisi Energi di Indonesia, Mungkinkah?

gas rumah kaca
Credit by pexels.com

Saat ini, hal menarik yang perlu kita cermati ialah pemerintah Indonesia tengah berupaya mendorong proses transisi energi melalui Efisiensi Energi serta Energi Baru Terbarukan. Yakni, dengan mengembangkan teknologi kendaraan listrik sebagai kendaraan masa depan yang diyakini dapat mendukung upaya transisi energi di Indonesia.

Padahal, jika kita menelaah kembali pernyataan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu terkait transisi energi ini. Beliau menyebutkan tiga tantangan terbesar dalam implementasinya, yaitu pendanaan yang besar, akses ke energi bersih, dan kemampuan riset dan teknologi.

Tapi, jangan lupa juga ada tantangan lainnya yang mungkin bisa jadi hambatan dalam merealisasikan proses transisi energi di Indonesia. Yaitu, aspek lingkungan dan sosial, seperti dampak kerusakan lingkungan, ketergantungan, dan kesenjangan sosial.

Terlepas dari itu, Indonesia rupanya memiliki target Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sekitar 23% pada bauran energi nasional di tahun 2025 nanti. Terlebih, langkah ini juga disambut hangat dengan adanya komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi hingga 29% di tahun 2030. Harapan saya pribadi, semoga melalui kebijakan ini dapat membawa Indonesia mewujudkan transisi energi dengan sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan. Semoga.

Wujudkan Transisi Energi: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

transisi energi
Credit by pexels.com

Sebuah langkah awal yang dapat kita upayakan untuk mewujudkan transisi energi ini ialah dengan merubah mindset kita terhadap lingkungan. Khususnya, belajar untuk bisa lebih memaknai lagi tentang sampahmu adalah sumber energi terbarukan.

Misalnya, dengan tidak membuang atau menyia-nyiakan minyak jelantah dengan mulai rutin mengumpulkannya. Kita tidak lagi menganggap minyak jelantah sebagai sampah rumah tangga yang harus disingkirkan. Melainkan, dari minyak jelantah inilah kemudian bisa diolah kembali menjadi Biodiesel untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati (biofuel) pada kapal laut dan kapal penangkap ikan.

Selain itu, sampah dan limbah organik seperti kotoran hewan yang dikumpulkan dan diolah kembali, ternyata bisa menghasilkan Biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai penghasil energi listrik. lho! Wah, sangat menarik ya.

Maka dari itu, sebagai individu yang peduli dan mempunyai cita-cita untuk melindungi bumi dari kerusakan, yuk, kita mulai langkah berikut ini dari sekarang!

  • Terlibat dalam pengumpulan limbah rumah tangga untuk bahan bakar energi non fosil (biodiesel dan biogas).
  • Ceritakan praktik baik inovasi pemanfaatan energi terbarukan/non fosil.
  • Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi
  • Menghemat penggunaan listrik
  • Mengkampanyekan penggunaan produk energi terbarukan

Gimana teman-teman, sampai sini cukup jelas bukan? Semoga catatan saya kali ini bermanfaat ya untuk teman-teman semua. Tetap save our earth dimanapun dan kapanpun, have a good day. SALAM WARAS!

Source: Materi Gathering Online #EcoBloggerSquad by Traction Energy Asia

Ludy

masyarakat adat Previous post Masyarakat Adat, Penjaga Hutan yang Sesungguhnya

Leave a Reply

Social profiles