Tentang Gengsi, Harga Diri dan Sandwich Generation

antara gengsi, harga diri dan sandwich generation

Pada intinya, saya pribadi sangat sadar, bahwa sikap gengsi cenderung mengarahkan seseorang untuk bersikap manipulatif, yang pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri. Sedangkan, harga diri lebih pada kesadaran dan komitmen dalam memandang diri sendiri, sehingga dapat mendorong individu untuk bersikap positif dan apa adanya. Wis, itu sih menurut pandangan saya. Kalau kamu sendiri gimana? Yuk, sharing!

Belajar menjadi diri sendiri dengan apa adanya saya. Apalah gengsi, enggak bikin kenyang toh! Stress iya.

Ludyah, 2019.

Terlahir sebagai anak pertama dan juga perempuan, nyatanya membuat saya cukup terlatih dengan berbagai challenge kehidupan dan belajar untuk mandiri secara financial. Entah, sudah terhitung berapa kali saya berpindah-pindah kerjaan guna mencari income tambahan dengan bekerja sambilan sejak duduk di bangku kuliah, demi untuk sekadar jajan enak dan hangout bareng teman. Kalau ditanya lelah, pastinya iya dong.

Mustahil banget kalau GUHEEE enggak ngerasain yang namanya tepar dan body rontok akibat maksain kerja sampai lalai kuliah. Semuanya saya lakukan diam-diam, dan hanya beberapa orang teman dekat yang tahu seberapa besarnya perjuangan saya kala itu. Paling tidak, bisa dihitung pakai jari lah ya jumlahnya. Bahkan, mereka ini ikut pula menyokong kesejahteraan saya di kampus dengan saling memberi makan dan tumpangan (gelap), ahhh sweet deh.

Ilustrasi saya yang bete karena kantong bokek pas kuliah (credit by pexels.com)

Back to the topic, meski orang tua saya terbilang cukup mampu. Tapi papa saya itu tergolong strict perihal cuan alis perhitungan pake BANGET. Maybe, sama putri pertamanya aja kali ya. Hitung-hitung melatih mental saya buat jadi pekerja keras di kemudian hari. Sebaliknya, papa tuh sama adek saya yang pertama malah royal banget, bahkan sampai minta duit dengan alasan fake sekalipun tetap aja dikasih.

Yaiyalah, namanya juga anak kesayangan dan beliau enggak tahu kalau lagi kena tipu-tipu anaknya ini. Tapiii, percayalah, papa menjadi donatur utama dalam berlangsungnya acara pernikahan saya yang dalam konteks ini saya memaknainya enggak lebih sebagai GENGSI dan PERTARUHAN HARGA DIRI dalam keluarga besar.

Wong, kalau dipikir-pikir, dengan perayaan seperti itu tentu besar nominal uangnya bisa banget buat saya DP rumah plus beli mobil lho! Tapi tetap aja sih, sebelumnya si papa minta urunan 50:50 sama calon suami yang sekarang sudah jadi pak suami, hehe. Terlebih, kehidupan pasca menikah jauh lebih menggigit daripada sebelumnya. Alhasil, jadilah saya dan suami hidup berkelana as a nomaden dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain.

Alasan utamanya saat itu terbilang retjeh sih, kondisi tabungan paksu pasca menikah udah kembang kempis dan doi enggak mau beli rumah melalui KPR bank, baik itu konvensional ataupun syariah. Otomatis, untuk hal ini saya mesti bersabar-sabar dahulu selama 2 tahun lamanya, demi sebuah rumah impian yang nilainya berkah dan bebas riba (alhamdulillah).

Baca Juga:

Namun, perjuangan (sungkan mengakuinya sebagai penderitaan) saya sebagai anak pertama tidak berhenti sampai disitu saja. Ternyataaa, orang tua saya yang ZUPEEERR ini pun menyatakan keberatannya bila saya menganggur dan berdiam diri di rumah saja (WHAAATTT???).

Bila ingat saat itu, ingin rasanya saya berteriak ‘helloww ma, pa, itu lho cucian sama gosokan di rumah minta segera di eksekusi. Masa sih, di rumah aku cuma diam bae, enggak punya aktivitas apapun alias nganggur. Pan nanti punya anak toh juga kerja ngurus anak, bukan?’. Jadi, intinya bagi mereka itu bukan pekerjaan, karena enggak menghasilkan cuan sepeserpun. Dan, darisanalah saya sadar kalau ternyata ortu saya ini cukup matre, wkwkwk.

Wait, maksud matre disini bukan seperti malak-memalak minta duit lho ya! Tetapi, lebih pada point of view keluarga besar lainnya. Karena, jujur saja papa dan mama saya tuh gengsi banget jika sampai ada keluarga yang tahu kalau anak-anaknya (exclude menantu yes) ini tidak berpenghasilan. Sing penting, prinsipnya kelihatan kerja aja dan wajib halal pastinya.

Pokoknya, sejak awal menikah udah di eman-eman enggak boleh nganggur, gimana caranya mesti putar otak agar tetap bisa berpenghasilan. Hingga akhirnya, jadilah saya seperti saat ini, seorang pekerja freelance yang bercita-cita punya banyak tabungan dan aset pribadi demi masa depan yang gemilang (tsah). But, di satu sisi saya gak se-ambisius itu sih, let it flow aja. Toh, rejeki sudah Allah tentukan hehe.

Mama dan Papa Gengsian, Aku yang Merana

Aku yang tengah merana (credit by pexels.com)

Sejak kecil, sudah tertanam begitu kuat hingga mengakar di benak saya tentang apa itu gengsi. Di mata keluarga besar papa khususnya, gengsi itu adalah hal mutlak yang menjadi tolak ukur bagi tiap individunya. Beuh, pokoknya berat deh! Saya sebagai anak yang didalamnya ikut serta menjalani peran ini pun rasanya enggak sanggup. Mengingat, segala hal yang akan dilakukan mesti dilihat dari kacamata gengsi.

Ishh, apa sih gengsi? Enggak bikin perut kenyang pula. Malah stress iya. Kendati demikian, saya jadi punya motivasi lebih untuk berprestasi dan menjadi yang terbaik saat di sekolah menengah dulu. Meski, ketika SMA masuk sekolah favorit di Bekasi dan saya pun terseret-seret didalamnya. Lantaran, banyak siswa didalamnya yang terbilang cerdas dan saya merana dibuatnya. Cukuplah bagi saya kala itu bisa punya geng main yang dapat menghibur duka nestapa saya yang makin nelangsa, akibat remedial mapel MIPA tiada henti, hiks.

Dan, lagi-lagi lantaran gengsi kedua orang tua saya pula, rupanya alhamdulillah berhasil mengantarkan saya lulus dalam tes ujian mandiri di IPB. Intinya, saat itu ortu support penuh agar saya bisa lulus ke perguruan tinggi negeri atau sekolah kedinasan. Semata-mata lantaran gengsi antar keluarga. Kalau inget saat itu, pengen deh rasanya saya masuk STM aja dan jadi yang paling cantik disana. Tanpa perlu mikir berat-berat, apa itu integral, limit, differensial, buffer dan sebagainya wkwkwk.

Paling tidak, dari kegengsian mama papa ini ada nilai positif yang bisa saya ambil, yakni motivasi dan semangat hidup untuk berjuang demi nama baik keluarga, gitu aja sih. Dan, efek negatifnya, saya jadi sangat merana dan terseret-seret kala itu. Ditambah lagi, uang saku yang terbatas. Pengen deh jujur bilang gini, ‘Please lah pa tambahin cuannya, aku kan orangnya baperan eh salah laperan’. Inget itu, saya pun seketika auto ngakak tengah malam wkwkwk. Karena pasti auto ditolak requestnya sama papa.

Tentang Menempatkan Harga Diri yang Sesungguhnya

Dewasa ini, seringkali saya berdiskusi dengan mama dan papa perihal harga diri. Saya jelaskan pada mereka bahwa harga diri bukan semata-mata terletak pada apa yang menonjol pada diri dan dapat mereka lihat sebagai konsumsi obrolan di ruang publik. Sekali lagi, bukan seperti itu. Namun, yang perlu ditekankan ialah bahwasanya harga diri lebih dititikberatkan pada kesadaran dan kekuatan diri untuk berusaha keras agar tidak bergantung pada siapapun (termasuk penilaian orang), kecuali Allah.

Dan, makna harga diri seperti itulah yang tepat menjadi panduan. Namun, mirisnya ialah mereka menolak untuk mengerti. Lalu balik badan, kembali pada persepsi standar aturan baku keluarga. Nyesek sih, tapi mau gimana lagi. Sulit memang rasanya mencabut akar yang telah tertanam kuat dalam prinsip seseorang.

Nangis kejer gara-gara minta tambahin cuan enggak dikasih (credit by pexels.com)

Pada intinya, saya pribadi sangat sadar, bahwa sikap gengsi cenderung mengarahkan seseorang untuk bersikap manipulatif, yang pada akhirnya dapat merugikan diri sendiri. Sedangkan, harga diri lebih pada kesadaran dan komitmen dalam memandang diri sendiri, sehingga dapat mendorong individu untuk bersikap positif dan apa adanya. Wis, itu sih menurut pandangan saya. Kalau kamu sendiri gimana? Yuk, sharing!

Tentang Si Millenial dan Sandwich Generation

Diambil dari akun IG @ummubalqis.blog

Sengaja saya mengambil millenial sebagai objek discuss kali ini. Ya, karena saya sendiri memang terlahir di era 90-an atau bisa juga disebut sebagai Gen Y. Dan, kaum millenial ini selain dikenal dengan pemikirannya yang terbuka dan wawasannya yang luas, khususnya dalam hal teknologi. Namun juga punya beban tersendiri yang diturunkan dari generasi sebelumnya, yakni kewajiban berbakti dalam rangka membalas budi orang tua. Kendati, telah berkeluarga dan sudah punya kehidupan sendiri. Tetapi, tanggung jawab untuk mensupport ortu secara finansial tetap ada meski tak sepenuhnya.

Beberapa kali, kondisi ini membuat saya menggerutu dan mengernyitkan dahi. Bahkan, sadisnya saya pernah berpikir bahwa cinta orang tua terhadap saya amatlah BERSYARAT. Karena, membutuhkan balasan dalam bentuk materi. Please, saya enggak ngeluh kok, toh saya juga enggak jor-joran banget cari duit dan ortu enggak banyak menuntut soal ini.

Namun, catatannya ialah sing penting tiap bulan transferan lancar hehe. Terlebih, papa sendiri juga punya pesangon dan uang pensiun dari pengabdiannya selama 30 tahun sebagai pegawai BUMN. Cuman, ya gitu deh, mama sering banget ajarin saya untuk peduli dan berbagi rejeki sama ortu dan mertua, udah gitu.

Dan, beberapa hari lalu, postingan Ummu Balqis di IG ini membuat saya cukup tersentak. Karena, sebagai millenial sudah saatnya saya untuk merubah ‘tradisi’ ini, belajar dan berusaha untuk memutus mata rantai sandwich generation mulai dari saya sebagai orang tua kelak. Lalu, menanamkan dalam hati dengan sebenar-benarnya bahwa cinta dan kasih sayang yang saya dan suami berikan kepada anak-anak ialah tulus tak mengharap balas.

Kalaupun si anak ada niat untuk berbagi rejeki pada ortu, ya baiknya dilakukan dalam keadaan lapang, ikhlas dan tak terbebani dengan keperluan lain. Disamping, enggak mesti seutuhnya dalam bentuk materi kok. Tapi juga berupa rasa cinta yang terbalas dari anak-anak untuk orang tua mereka di hari tuanya. Khususnya dalam menemani dan mengisi hari tua mereka dengan kecerian serta kebersamaan yang rutin diluangkan. Ahh, sweet banget kan.

Fix, saya pun mesti belajar banyak dari Bumer perihal keuangan. Mengingat, di usianya yang sudah menginjak 70 tahun lebih hingga saat ini beliau enggak pernah sekalipun meminta perihal materi pada anak-anaknya. Pasalnya, sebagai PNS (suami istri pula), beliau sebelumnya sudah punya tabungan aset dan investasi yang cukup melimpah. Sehingga, beliau sendiri menilai, cukuplah anak-anaknya bisa hidup mandiri tanpa dibebani tanggungan yang lain. Kurleb seperti itu, dan sepertinya saya harus meniru pola beliau dalam mengelola keuangan.

Benar kata Ummu Balqis dalam hal ini, penting untuk memutus mata rantai sandwich generation mulai dari kita, dengan mulai bijak mengatur keuangan, sesuaikan lifestyle dengan keadaan diri, dan berpikir jauh kedepan saat hendak berhutang atau berfoya-foya. Tujuannya tak lain agar tidak merepotkan keturunan kita nantinya di kemudian hari.

Finally, sepertinya saya cukupkan yes curcolan saya yang panjang kali lebar macem gini. Jika ada yang baik, silahkan diambil. Kalaupun bernilai negatif, tolong jangan judge saya (lho!). Setidaknya, melalui tulisan ini cukup membuat tidur saya tenang di malam hari wkwkwk (padahal mah aslinya begadang mele). Semoga bermanfaat, Salaw WARAS!

Ludy

Sharing is caring!

3 thoughts on “Tentang Gengsi, Harga Diri dan Sandwich Generation

  1. Manajemen keuangan memang menghadapi tantangan serius di abad ini, untunglah ada antisipasi mematahkan mata rantai jebakan sandwich generation, pesan ortu zaman dulu ternyata selalu relevan, hemat pangkal kaya :))

  2. Saya ngerasa lega kalau mbak sekarang udah ada penghasilan. Izin ya mbak saya mau nyampein opini aja, kalau menurut saya pribadi mending setiap istri itu punya penghasilan dan tabungan sendiri. karena banyak kejadian dan kisah2 yang saya baca, kejadian rumah tangga yang suami menelantarkan istrinya, sementara istrinya ga punya pekerjaan dan uang. ya harapannya memang ini ga terjadi di dalam rumah tangga mbak atau saya, amiiin. istri dituntut smart dan strong.

    kalau saya sendiri ketika menikah nanti ga akan memaksa istri berdiam diri di rumah, kalao mau kerja ya monggo. sementara pekerjaan rumah tangga dibagi. saya udah terbiasa sejak kecil bersih2 rumah mbak, karena ortu pagi-sore banting tulang ke kebun.

    nah, terkait sandwich generation saya juga berniat memutuskannya. jangan deh sampe berlanjut ke anak saya. untuk itu saya sejak kerja udah belajar budegting, nabung, n investasi.

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares