Cara Tepat Kelola Emosi Hadapi Anak Tantrum

tips-hadapi-anak-tantrum

Menghadapi anak yang lagi tantrum rasanya tuh nano-nano banget deh. Serba salah, pengennya sih ngalah, tapi khawatir nanti manja. Baiknya gimana ya, Moms?

Beberapa waktu lalu, saya dan si sulung, Khadijah, sempat berseteru agak sengit. Masalahnya sih sepele, bahkan terbilang klasik. Yakni, kebiasaan Khadijah yang suka berlama-lama saat mandi dan makan. Mirisnya, kebiasaan ini seringkali terjadi tiap pagi, saat Khadijah bersiap untuk berangkat sekolah.

Jujur, sebenarnya saya sudah berusaha keras untuk melembutkan suara serta mengecilkan volume saat meminta Khadijah untuk bersegera mempersiapkan diri, agar tidak terlambat. Namun, sayangnya hal itu tidak serta merta ditaati oleh Khadijah. Dia pun lalu bersungut, berteriak, dan menangis tiada henti.

Saya yang mencoba untuk tetap tenang, mulai kehilangan akal saat melihat tingkahnya yang tengah tantrum. Tidak mau kalah, akhirnya saya meminta Khadijah dengan tegas untuk segera menuruti perintah saya, ibunya. Walau, baginya terdengar agak mengancam. Tapi, apa mau di kata, saya sudah terlanjur emosi dan bingung bagaimana menghadapinya.

Sejurus kemudian, terbit penyesalan dalam dada. Pikiran saya pun mulai berkecamuk dengan berbagai kekhawatiran, “harusnya tidak begini”, “mengapa sih pakai acara galak segala sama anak?!”, “kasihan Khadijah, pasti setelah ini dia jadi takut sama aku.” Dan terus saja seperti itu.

Tak ingin berlarut-larut, saya pun mulai mempertanyakan diri, bagaimana caranya agar saya bisa lebih sabar? Utamanya, untuk bisa mengendalikan emosi saat menghadapi Khadijah yang sedang tantrum. Karena, buah penyesalan yang saya rasakan setelahnya membuat saya sulit tidur semalaman.

Baca Juga: Pentingnya Manajemen Emosi Bagi Seorang Ibu

Kendalikan Emosi, Cara Bijak Hadapi Anak Tantrum

anak-tantrum
Credit by pexels.com

Jujur saja, saat melihat Khadijah tengah tantrum, sempat membuat emosi saya cukup terkuras. Mau marah-marah sembari memintanya untuk diam, justru hanya akan menambah penyesalan dalam diri. Dikarenakan, saya pribadi masih sering lost control saat terbawa arus emosi si kecil.

Otomatis, untuk menghindari kekhilafan yang mungkin dapat terjadi, saya lebih memilih untuk menjauh sementara dari Khadijah saat sedang tantrum. Meski cara ini terdengar umum, namun efeknya sangat berarti untuk psikis saya dan Khadijah nantinya.

Beruntung, beberapa waktu lalu, saya pernah mengikuti sebuah webinar bersama salah seorang psikologi anak yang menjadi narasumbernya. Beliau bernama, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., Psikolog.

Dalam webinarnya, Ibu Vera, biasa dia disapa menjelaskan, antara emosi dan perkembangan otak anak rupanya memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Dimana, dalam hal ini otak kita terbagi menjadi beberapa bagian, dimana ada dua bagian pada otak yang menjadi pusat sentral dalam hal keputusan dan kontrol diri.

Dua bagian otak ini adalah Amygdala dan Prefrontal cortex. Amygdala berperan sebagai pusat emosi, sedangkan Prefrontal cortex membantu fungsi berpikir yang kompleks, seperti pengambilan keputusan. Lebih tepatnya, fokus memikirkan sesuatu yang konsekuensinya jangka panjang.

Diketahui, perkembangan otak di bagian Amygdala pada usia anak-anak ini sudah sempurna. Namun sayang, di bagian Prefrontal cortex masih berkembang alias belum matang secara utuh. Sehingga, perilaku anak-anak ini masih sangat dipengaruhi oleh emosi. Terlebih, mereka belum sepenuhnya mengenali dan masih bingung menyikapi emosi yang mereka rasakan dengan cara yang tepat.

Alhasil, dalam konteks ini, orangtua memegang peranan penting dalam hal mengendalikan emosi dan situasi saat menghadapi anak yang sedang tantrum. Mengingat, orangtua yang fungsi otaknya sudah optimal, diharapkan bisa membantu anak-anak ini untuk memahami emosi yang dirasakan dan mempunyai strategi khusus dalam mengendalikan emosi anak. Sehingga, anak bisa belajar untuk mengendalikan emosi mereka sejak dini secara bertahap.

Disamping, dampaknya pun juga sangat positif dan dapat meminimalisir efek trauma yang mungkin terjadi pada anak. Lantaran, peran dari orangtua yang bisa mengendalikan emosinya dan si kecil yang bersedia untuk koperatif saat tengah tantrum. Jadi, tetap ya buk, kuncinya ilmu, praktik, dan sabar.

Baca Juga: Menjadi Ibu: Tentang Menjaga Emosi dan Kewarasan Diri

Bun, Yuk Latihan Kelola Emosi dengan Langkah Ini!

manajemen-emosi-anak
Credit by pexels.com

Dalam pemaparan Ibu Vera, beliau menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan anak menjadi tantrum dan sulit untuk dikondisikan. Antara lain, ada yang tidak sesuai dengan keinginan atau kebutuhannya, dimana dalam kondisi ini anak masih belum bisa menafsirkan emosi yang dirasakannya dengan jelas. Sehingga respon yang dia lakukan terhadap dirinya diungkapkan dengan cara tantrum. Ditambah, dia juga belum bisa mengelola emosinya dengan baik.

Di sisi lain, ada pembiasaan dari orangtua untuk mengalihkan tantrumnya. Namun sayang, justru pembiasaan ini tidak sepenuhnya berdampak baik. Contohnya, agar tantrum anak mereda si orangtua ini memberikan apapun yang anak inginkan. Mirisnya, cara tantrum ini akhirnya menjadi jalan pintas bagi anak untuk mendapatkan sesuatu.

Maka, agar tidak salah dalam mengambil sikap, para orangtua perlu melakukan beberapa langkah preventif dalam menghadapi anak yang tengah tantrum. Khususnya, agar bisa mengendalikan emosi dengan cara yang bijak dan semestinya. Adapun, cara yang bisa orangtua lakukan, antara lain:

  • Menyadari ungkapan emosi yang anak alami
  • Menyadari emosi diri sendiri (sebelum terlibat, bisa menenangkan diri dulu bila belum siap)
  • Jadikan situasi emosional tersebut sebagai kesempatan membangun hubungan dengan anak
  • Bantu anak menyampaikan emosi yang dirasakan secara verbal
  • Dengarkan dan tunjukan empati kepada anak, tentang apa yang anak alami dan rasakan
  • Memberikan batasan cara menyalurkan emosi dan solusi masalah (cara lain mengekspresikan emosinya).

Meski, pada praktiknya sendiri terasa sangat sulit, namun jika dibiasakan secara bertahap, tentu dampaknya akan lebih baik, bukan? Yuk, bun, pelajari, pahami, dan lakukan dari sekarang!

Conclusion

Menyiasati anak yang sedang tantrum, tentu bukanlah hal yang mudah. Namun, jika para orangtua bisa mengendalikan emosi dengan bijak dan turut merasakan emosi yang anak rasakan, bisa jadi akan sedikit meredakan gejolak tantrum anak.

Terlebih, banyak faktor lain yang membuat anak menjadi tantrum, sehingga sebagai orangtua kita perlu memahami dengan baik perasaan dan kondisi anak. Semata-mata agar tepat dalam mengambil sikap dan tidak menimbulkan dampak yang buruk terhadap kebiasaan anak nantinya.

Semoga, catatan saya kali ini bermanfaat ya dan bisa sedikit membantu teman-teman semua. Jika, ada yang punya saran atau tips and trick lainnya mengenai anak yang sedang tantrum, boleh banget lho di-share disini! Have a good day everyone, SALAM WARAS!

Ludy

payment-gateway Previous post Bangun Toko Online Jadi Lebih Mudah dan Aman Pakai Midtrans
serum pencerah wajah Next post Cobain Pond’s Bright Beauty Triple Glow Serum; Beneran Glowing?

11 thoughts on “Cara Tepat Kelola Emosi Hadapi Anak Tantrum

  1. Sejak awal, saya dan suami bersepakat gak akan menuruti kemauan anak hanya karena anaknya ngamuk. Kalau smapai gak bisa dibilangin, mending cuekin aja. Tapi, tetap dalam pengawasan. Supaya jangan sampai anak tantrum sambil membahayakan dirinya.

    Menurut pengalaman saya, kekompakan ini memang jadinya memudahkan juga. Anak juga lama-lama belajar mengendalikan emosi. Saya dan suami pun gak ribut karena berbeda pendapat.

  2. memang baiknya orang tua menguasai diri sendiri dulu sebelum menghadapi anak tantrum … ya supaya enggak ikutan tantrum. Itu kalau aku sedang waras, bisa. Kalau capek yaa kadang kelepasan juga apalagi seperti sama khadijah, pagi harus segera sekolah tapi malah berlama-lama mandi dan makan. Bisa juga dengan bangun lebih awal supaya enggak langsung ngegas kudu ngapain, kasih timer, atau kasih target maks selesai mandi makan pukul sekian.

  3. Terbayang aku lho, bagaimana anak tantrum dan bagaimana kalau orang tua tidak belajar mengendalikan emosi ya. Ortu kudu kompak juga ya dengan aturan yang mereka terapkan untuk anak. Ya ujungnya biar anak paham juga kan

  4. Cara hadapi anak tantrum memang susah ya, apalagi kalau di tempat umum. Tapi memang patut ada pemahaman emosi agar anak dan orang tua sama-sama nyaman dan lega. Salam kenal dan salam hangat kak Ludyah. @depus

  5. Iya kuncinya ada pada orang tua. Anak saya sudah kuliah dan SMP. Ketika mereka kecil, saya temperamen. Mereka tumbuh dengan ketidaknyaman. Sadarnya pas anak bungsu sudah sekolah. Sering diskusi dengan gurunya. Saya mencoba lebih tenang Alhamdulillah, bisa menghadapi anak bungsu yang tantrum. Biasanya saya coba bicara sama dia. Saya tidak mengerti kalau ia bicara sambil menangis. Kemudian saya minta ia tarik napas. Tapi kalau masih mau menangis tak apa. Alhamdulilah anak-anak lebih baik setelah itu.

  6. Tips yang bagus ya mom dari Ibu Vera dalam mengelola emosi anak tantrum. Terutama kita orangtua kalau tidak panjang sabar seringkali emosi yang terbawa dan akhirnya penyesalan.

  7. aku sadar banget nih selama masa tumbuh kembang aku dulu masih kurang banget yaa komunikasi dan ungkapan emosi verbal, mungkin itu hal yang suka luput dari parenting yaa, ternyata jadi orang tua bener-bener never ending learning yaaa

  8. Jadi inget nih waktu ponakan ada yang tantrum pas di supermarket, sama kakakku sih dibiarin aja. Emang gak dibiasain untuk nurutin apa maunya.

  9. Ampun deh kalau berhadapan sama anak tantrum. Bingung mau diapain juga, dikalemin terus nangis, diteriakin malah tambah kejer. Aku sih ang belum menguasai emosi diri, kalau anak nangis aku jadi ikut sebel. Untungnya ada catatan ini dari mama Ludy, sebagai ilmu yang bisa dipraktikkan.

  10. Aku juga suka menyesal kalau anak lagi tantrum dan ikutan emosi juga. Nyesel aja akhirnya marahin si kecil. Memang gak mudah banget menghadapi anak tantrum, tapi sebagai orang tua kita harus sabar. Hadapi tantrum anak dengan kepala dingin.

Leave a Reply

Social profiles