Punya Gaya Parenting Sendiri, Kenapa Enggak?

Gaya Parenting

Sebuah reminder untuk diri sendiri, biar enggak insecure melulu. Jadi, enggak masalah kan, kalau punya gaya parenting sendiri? Yuk, tentukan jalan ninjamu dari sekarang!

Sebagai ibu muda beranak satu yang doyan berselancar di dunia sosial media (sosmed) terkini, rupanya cukup membuat saya terganggu. Bukan hanya sekali atau dua kali. Namun, SERING. Hal ini bukan ditujukan pada life style kekinian yang gemerlap dan mevvah serta lekat dengan medernisasi. BIG NO ya! Justru, fokus utamanya ialah tentang gaya parenting. Beberapa diantaranya, tak jarang membuat saya terkagum-kagum. Hingga kemudian berimbas pada ke-posesif-an saya yang berujung mati gaya. Lantaran bingung, ingin mengikuti arah mana yang sekiranya benar dan tepat. Maklum lah ya, namanya juga emak-emak newbie.

Gimana enggak bingung, ada psikolog A bilang metode pengasuhan terbaik itu seperti ini agar anak punya social life dan kognitif yang baik. Lalu, ada artis B cerita style parentingnya yang seru dan dikemas dengan pola asuhnya yang menurut sebagian orang asik dan friendly untuk anak. Setelah itu, muncullah cerita-cerita beserta akun-akun parenting lainnya yang dibagikan melalui sosmed dan sarat dengan unsur persuasif. Nah lho, gimana enggak makin bingung cobaak?!

Baca Juga:

Mencoba Rileks dan Berdamai dengan Diri Sendiri

Dari kondisi itu, saya sempat mengambil jeda. Menjauhkan diri dari keriuhan dunia sosmed yang tiap detiknya terus melaju membagikan berbagai info terbaru yang saya anggap hanya akan membuat saya semakin bingung jika terus-menerus mengaksesnya tiap saat. Khawatir, malah justru stress nantinya, benar begitu?

Credit by pexels.com

Tak ingin menyiksa diri berlarut-larut, akhirnya saya pun menenangkan diri sejenak dan berpikir untuk langkah kedepannya dalam mendidik buah hati tercinta, Khadijah. Dalam hati saya membatin, bahwa saya mesti tegas untuk hal ini. Karena, perihal pola asuh akan sangat memengaruhi perkembangan jiwa anak dalam jangka panjang.

Sehingga, saya bertekad untuk tidak ingin menjadi orang tua bingung yang latah serta tidak punya pendirian. Karena, kelak yang akan menuntun Khadijah menuju masa depannya adalah saya, IBUNYA (feat bapake). Bukan orang lain. Serta, perlu diingat pula tiap anak itu istimewa dan berbeda-beda. Jadi, jelas dong ya treatmentnya berbeda pula, enggak bisa disamaratakan. Mengingat, hasilnya pun tentu juga akan berbeda, tidak bisa diseragamkan seluruhnya. 

Dan, Inilah Jalan Ninjaku…

Lantas, demi menjaga kewarasan jiwa dan raga sebagai ibu yang aslinya galak dan sering meradang (tapi hobi begadang, hahahaa), saya pun mencoba untuk melakukan beberapa pendekatan yang saya rasa ‘klik’ di hati. Apa saja? Ini dia selengkapnya.

Credit by pexels.com

1. Lakukan Filterisasi dan Elaborasi

Yup, parents wajib banget nih mencermati hal ini. Boleh kok kita baca dan perlu tahu berbagai info serta seluk-beluk terkait pengasuhan. Namun, akan lebih bijak jika kita dapat memilahnya berdasarkan kondisi diri dan anak kita. Karena, jelas tiap keluarga punya latar belakang yang berbeda-beda. Dengan kata lain, filterisasi ini perlu dilakukan agar nyambung dengan realita dan kesanggupan kita. Kemudian, ciptakan elaborasi yang mana saat kita menerapkannya pun enjoy sekaligus merasa have fun, tanpa perlu merasa terbebani saat menjalaninya. Intinya sih, be happy and giving stimulus for our children.

2. Konsultasikan Langsung dengan Ahlinya

Ini dia yang enggak kalah penting, konsultasikan langsung dengan ahlinya ya buuuk. Hal ini menurut saya pribadi, perlu banget sih dilakukan. Karena, sebagai ortu tentu kita enggak boleh ngadi-ngadi, apalagi sampai terjebak dengan ke-sok-tahu-an yang menurut saya malah akan menyiksa kejiwaan anak tanpa kita sadari. Ingat lho, cara mendidik kita saat ini akan memiliki pengaruh jangka panjang terhadap kematangan jiwa dan emosional anak di masa depan.

Jadi, setelah kita melakukan filterisasi dan elaborasi, alangkah baiknya kita diskusikan langsung dengan ahlinya terkait role model yang kita pilih. Baik itu dengan psikolog anak atau bahkan dengan ahli parentingnya langsung. Sehingga, saat menjalankannya pun hati jadi lebih tenang dan punya catatan khusus langsung dari ahlinya.

3. Atur Kerja Sama dengan Partner Hidup

WAJIB, karena saat mengasuh buah hati tentu para ibu ini butuh banget peran si ayah dalam menjalankan model pengasuhan. Pastinya, dalam konteks ini mesti sepaham yes, agar sejalan dan beriringan. Enggak enak kan kalau tiba-tiba di pertengahan ada beda pendapat dengan si ayah, lantaran dari awal enggak menyamakan persepsi terlebih dahulu terkait role model parenting. Jadi, agar sama-sama enak, diskusikan dan jalin komunikasi intens secara persuasif dengan si ayah agar kerja sama mengasuh buah hati ini jadi lebih menyenangkan. Yossss, semangat buuuukk!

4. Berani Berbeda

Dalam hidup, wajar kok kalau sesekali dinilai aneh dan bahkan berbeda oleh orang-orang sekitar. Apalagi, jika sudah menyinggung prinsip dan cara mengasuh anak. Kebanyakan dari kita saat ini, umumnya terjebak dengan pola asuh konvensional yang menjadikan orangtua sebagai sentral utama yang harus ditaati segala aturannya, tanpa perlu peduli bagaimana perasaan dan dampaknya bagi si anak nantinya. Sehingga, saya setuju banget nih dengan adanya ilmu parenting ini yang didalamnya sangat peduli dengan nilai-nilai humanisme, serta bonding antara ortu dan anak. Intinya, enggak masalah kok kalau berbeda, selagi itu baik dan bermanfaat bagi buah hati di masa depan. So, be brave ya!

5. Jadilah Diri Sendiri!

Hemat saya, jadilah yang terbaik menurut versi kamu. Khususnya, dalam hal pengasuhan. Saya pribadi, jujur seringkali merasakan insecure kalau lihat teman-teman di medsos yang rasanya rajin banget kasih stimulus ke anak tiap hari dengan schedule activity yang berbeda tiap harinya. Lantas, apakah saya pernah merasa iri dan mencoba untuk bisa menirunya juga? Jelas, pernah lah. Bohong banget kalau saya enggak merasa iri dan sebagainya.

Hanya saja, saya sadar diri dan kembali melihat karakter si kecil. Dimana, jiwanya saat ini yang masih ingin merasa bebas dan belum siap dibebani dengan berbagai arahan serta instruksi yang mungkin menurut saya akan membuatnya cukup tersiksa. Please, ini anak saya lho ya, jadi jangan asal sundul dengan komen negatif haha. Karena, pastinya saya yang lebih tahu seperti apa kesiapannya.

Sehingga, cara terbaik saya saat ini untuk menstimulusnya adalah dengan mencari tahu sekaligus membersamai segala aktivitas yang memang ingin Khadijah lakukan. Dalam artian, aktivitas stimulus ini sepenuhnya ‘dikuasai’ oleh Khadijah, namun tetap saja kendali utama ada pada diri saya, ibunya. Jadi, selagi itu aman dan sesuai dengan usianya, saya sih let’s go aja ngikut si kecil, hahaha.

Terapkan Gaya Parenting Berdasarkan “Versi Kamu”

Gaya parenting
Credit by pexels.com

Nah, setelah melakukan step by step di atas, saya belajar untuk bisa percaya diri dalam menerapkan gaya parenting “versi saya”. Karena, agar proses ini berjalan optimal, sebagai pelaku utama kita mesti PD terlebih dahulu dan tak lupa mengkomunikasikan hal ini dengan buah hati. Otomatis, hal ini secara tidak langsung dapat mengajarkan si kecil untuk belajar terbuka sejak dini. Mengingat, saya selalu menanyakan dulu pada Khadijah tentang aktivitas apapun yang akan kita lakukan bersama, “kira-kira apakah Khadijah suka untuk melakukan ini?”. Jika iya, kami pun lanjut dan melakukannya bersama-sama, sehingga tidak ada unsur paksaan apapun didalamnya.

Perlu saya akui, beberapa tahun belakangan ini juga saya sempat meng-unfollow beberapa akun personal dan juga parenting yang tampaknya membuat saya cukup kewalahan. Alih-alih menguatkan peran saya sebagai ibu, namun nyatanya hanya menyurutkan minat dan semangat saya untuk berproses menjadi ibu pembelajar. Maka, dari itu saya pun memilih untuk mundur dari dunia medsos sementara dan kembali memilih konsep parenting yang saya rasa matched di hati. Karena, jika semuanya diikuti, ujung-ujungnya yang akan capek pasti kita sendiri. Benar begitu?

Untungnya, tak lama dari itu, saya menemukan sebuah situs parenting yang tepat untuk menjadi wadah bagi saya belajar dan mencari tahu banyak hal terkait pengasuhan. Yup, theAsianparent merupakan situs parenting Indonesia terbaik yang juga menyajikan berbagai info menarik seputar kehamilan, bayi, tumbuh kembang anak, kesehatan anak, dan nutrisi makanan sehat anak. Semuanya dikupas dalam sajian konten yang menarik dan mudah dipahami, baik itu di website maupun media sosial officialnya.

Enggak hanya sampai disitu aja, theAsianparent juga merangkul seluruh pembacanya dalam sebuah Aplikasi lho yang usefull banget. Dimana, para pembaca ini bisa saling berinteraksi lebih dalam dengan saling membagikan pengalaman satu sama lain. Jadi berasa banget motherhood wave-nya, punya teman sesama ibu-ibu yang saling mensupport melalui wadah di aplikasi theAsianparent ini. Pokoknya, seru banget deh! Oh iya, untuk apps-nya bisa kamu download ya di Google Playstore atau iPhone, hehe.

Masih kurang juga? Cuss, buruan langsung download apps, buka websitenya dan join di komunitas theAsianparent yaaa. Ingat selalu, ibu pintar, wajib banyak belajar dan cari tahu. Semoga bermanfaat yaaa, have a nice day! SALAM WARAS.

Ludy

PaulaBaimxLemonilo Previous post Usai Mengasuh Kiano, Paula Nikmati Mie Instan Lemonilo di Malam Hari
belajar tatap muka Next post Anak Kembali ke Sekolah di Masa Pandemi, Yakin Rela?

28 thoughts on “Punya Gaya Parenting Sendiri, Kenapa Enggak?

  1. Betul Mba kebanyakan lihat instagram bikin mental nggak sehat karena kita selalu membandingkan dengan kehidupan orang lain yang lebih sempurna. Akhirnya yah balik lagi ke parenting gaya sendiri aja agar nyaman 🙂

  2. Kayaknya cuman saya nih yang jarang dapat ilmu parenting di IG hihihi.
    Apalagi stalkingin gaya parentingnya para seleb atau artis.

    Bahkan teori kebanyakan parenting yang beredar pun saya pilah pilih, karena kondisi tiap ibu itu beda-beda, nggak bisa disamakan.

    Punya gaya parenting sendiri jauh lebih baik 🙂

  3. Aku juga pernah ngerasain insecure dan merasa gimana gitu dengan gaya parenting aku. Padahal setiap orang memang punya gaya sendiri dan kita sebagai orangtua harus bisa menyesuaikan pengasuhan kita dengan apa yang dibutuhkan oleh anak kita ya. Harus pede dan happy dengan yang kita lakukan.

  4. Aku sepakat Mbak kalau tiap orang tua itu tahu yang mana pas buat anaknya. Tidak semua anak sama. Semua anak istimewa jadi perlakukannya juga harus istimewa tiap anak.

  5. Sepakat! Harus punya gaya parenting sendiru bareng suami. No matter harus elaborasi, hihi. Segitu lengkapnya web TAP yah

    1. Gaya parenting ini sebenarnya tergantung ortunya memang, karena masing-masing ortu akan mempunyai gaya parenting sendiri untuk anak-anaknya dan tujuan mereka pasti akan baik semuanya

  6. Harus yakin dan percaya diri ya mbak, kalo kita ngga pernah coba maka ngga akan pernah tau pembuktiannya dan semua itu harus dicoba dari pada ngga sama sekali namun tetap mempertahankan metode yang baik yang sudah ada dan terbukti ya mbak.. semangat

  7. Saya gak pernah iri dengan gaya parenting orh lain dan juga enggak pernah komenin gaya parenting orang lain kecuali ditanya. Soalnya yakin kondisi tiap keluarga gak sama sih ya.
    Jd fokus ke diri sendiri dan selalu berusaha update dan upgrade ilmu parenting sendiri. beda gpp, selama kita yakin itu yg terbaik dan gak dosa hehe

  8. Mengingat kepribadian orangtua, anak, lingkungan berbeda jadi nggak perlu takut kalau gaya parenting nggak sesuai ekspektasi orang-orang sekitar ya mba. Pokoknya jalani asal sekeluarga sehat dan bahagia!

  9. Banyaknya info parenting bukan berarti kita akan lebih mahir mengasuh anak, justru kalau aku jadi lier, malah lupa saat praktek langsung. Kadang memang butuh curhat dan saling bertanya. Bagus juga ya ada The Asia Parent ini ya, sperti punya teman sharing

  10. aku auto ngakak pas ada tulisan, ini jalan ninjaku hahaha, setuju mba, parenting itu gada pakemnya, kenapa harus sama, toh setiap anak kan berbeda, itu pentingnya kita banyak tahu jadi bisa aplikasiin yang sesuai sama sikon kita ya kan

  11. aku sering banget ikut kelas parenting ya semacam short course hingga diplomanya, Mulai dari kelas yang artis itu, lalu kelasnya bu elly risman hingga anak-anaknya dan sekarang lagi ambil montessori. yang paling menarik adalah ketika mengggali sisi psikolog anak dan kunci dari parenting adalah mengenali jiwa anak ya mba.

  12. iyaahh banget itu Mbak, sering insecure juga kalau lihat medsos, mak emak dengan segala stimulus dan aktivitas ke anak-anaknya, tapi balik lagi sadar saya dan anak-anak saya bisanya begini, maunya seperti ini, jadi balik lagi ke kami dong ya yang jalani.
    orang-orang mah cuma bisa komen ya, padahal yang tahu tentang anak itu ya Ibunya, apa yang anak butuhkan dan lain sebagainya.
    artikel-artikel di theAsianParents ini bagus-bagus ya 🙂

  13. pusing deh kalo lihat rumput tetangga dalam urusan parenting, hihi … suka dengan jalan ninja Mba Ludy. Tiap keluarga kan unik jadi punya visi misi dan cara parenting sendiri. Pokoknya ga melanggar norma agama dan hukum aja, lanjuuuut!

  14. bener.. kita punya gaya masing2.. ga usah ngikutin orang lain karena belum tentu sesuai dengan kondisi anak kita. Cuma kita yang tau seperti apa anak kita kan. Jadi diri sendiri itu lebih baik

  15. Dari sini, aku menangkap kalau gak semua anak bisa menerima ilmu parenting. Jadi pinter-pinter maminya mau gimana. Thank you for sharing kak, aku jadi lebih tau banyak tentang parenting. Bisa buat bekal kalo aku jadi mommy nantinya.

  16. Duh saya kesentil jadinya mba, krna saya suka menyiapkan aktifitas main ke anak, alhamdulillah anak jdi nagih2 main breng saya dan bkin DIY, tugas orangtua hanya mengarahkan tpi anak lah yg memutuskan pilihannya sndiri 🙂

  17. Setuju banget, harus dikonsultasikan dengan ahlinya, karena kalau urusan parenting itu ga bisa sembarangan dan ga bisa juga ikut2an orang lain ya, harus punya gaya sendiri.

  18. Setuju banget, harus dikonsultasikan dengan ahlinya, karena kalau urusan parenting itu ga bisa sembarangan dan ga bisa juga ikut2an orang lain ya, harus punya gaya sendiri yang beda dari yang lain.

  19. Semua metode pengasuhan itu baik. Tinggal kita ikut yang mana dan terapkan di keluarga tapi dengan cara disesuaikan kondisi masing-masing keluarga. Mix and match beberapa metode juga nggak ada salahnya.

Leave a Reply

Social profiles