Saya dan Kejenuhan di Akhir Tahun 2019

Ahh, sungguh benar adanya bahwa dunia itu fana dan tak ada yang abadi. Bisa jadi, apa yang ada dalam genggaman kita saat ini, mungkin esok akan berpindah dan jadi milik yang lain. Atau mungkin, sederhananya direnggut langsung oleh si empunya. Sehingga, kita enggak punya kuasa apa-apa dalam hal ini. Karena, sejatinya ini bukanlah milik kita.

Akhir-akhir ini, saya akui bahwa diri ini sedang teramat jenuh. Iya, sangat jenuh. Saya merasa, waktu saya dalam satu hari selama 24 jam, tak lebih hanya untuk menyelesaikan urusan dunia dan menanti hadirnya esok hari. Dalam hati, bukan seperti ini yang saya inginkan sebenarnya. Malah, bisa jadi saya yang sebenarnya tengah terlena oleh kehidupan duniawi.

Credit by pexels.com

Ahh, sungguh benar adanya bahwa dunia itu fana dan tak ada yang abadi. Bisa jadi, apa yang ada dalam genggaman kita saat ini, mungkin esok akan berpindah dan jadi milik yang lain. Atau mungkin, sederhananya direnggut langsung oleh si empunya. Sehingga, kita enggak punya kuasa apa-apa dalam hal ini. Karena, sejatinya ini bukanlah milik kita.

Di tahun ini, tepatnya 2019, alhamdulillah ada beberapa mimpi yang dapat saya wujudkan. Terlebih dalam hal pengembangan diri dan materi (financial). Namun, jujur, makin kesini saat menjalaninya, saya merasa seolah tengah diperbudak oleh kesibukan yang melenakan hati dan pikiran saya dari Allah. Bukan bermaksud riya’, saya yang dulu dalam sehari bisa membaca alquran sebanyak 1 juz, kini dapat 2 lembar saja sudah alhamdulillah. Lalu, dengan ibadah sunnah lainnya yang rutin dijalankan kala itu, kini malah bisa dibilang compang-camping.

Astaghfirullah, rugi rasanya kalau mengingat hal itu.

Lantas, apa sih sebenarnya yang saya cari?

Benar adanya, memang saya butuh pengakuan dan ingin bisa mandiri secara financial. Kendati dalam konteks ini, suami alhamdulillah sudah cukup mapan dalam mencukupi kebutuhan keluarga dan lainnya. Namun, rasa ego dalam diri saya nyatanya tak ingin diam begitu saja. Apalagi, adanya dorongan dari orang tua saya yang selalu menanyakan, “Kamu enggak mau kerja lagi? Sayang lho kuliah S1 jadi sarjana. Ijazahnya enggak kepake dong.”

Credit by pexels.com

Terus saja seperti itu. Bukan maksud saya menjelek-jelekkan ortu. Sekali lagi, bukan. Namun, saya merasa dalam hal ini orang tua saya menginginkan saya bisa sukses dan berharap ada sedikit “balas budi” yang bisa menyenangkan hati mereka di masa tuanya saat ini. Dan, hal inilah yang menjadi motivasi terbesar saya untuk mengasah diri dan mengembangkan skill. Terus berusaha mencari peluang sana-sini walau harus mencuri waktu saat tengah bersama si kecil.

Dan, gara-gara itu pula, saya jadi merasa berdosa. Jelas, perasaan dosa saya ini pun jadi bertambah berkali-kali lipat. Lantaran, mengabaikan si kecil demi peluang materi yang sifatnya tak abadi. Sungguh, saya sangat kesal. Terlebih, kesal pada diri saya sendiri yang belum cerdas dalam memanage waktu untuk urusan keluarga, kerjaan dan diri sendiri.

Ditambah lagi, saya punya trauma di masa lalu yang cukup membuat saya terus mempertimbangkan banyak hal. Semata-mata, demi menciptakan keluarga yang harmonis. Dengan partner hidup yang saling mendukung dan bonding yang kuat dengan anak-anak. Intinya, terus berusaha untuk menghalau berbagai gangguan yang ada demi mempertahankan keutuhan keluarga. Otomatis, yang ada malah saya jadi sangat insecure soal keluarga.

Terlepas dari itu, ada beberapa hal yang nyatanya membuat saya merasa jenuh jelang akhir tahun 2019 ini. Sekali lagi, bukan karena saya tidak bersyukur lalu kemudian mengeluh ini dan itu. Namun, saya merasa hati saya kini tengah lelah dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang dijalani tiap harinya. Dan, tolong jangan judge saya perihal diri yang KURANG IMAN, kendati sebenarnya memang lagi turun-turunnya, wkwkw. Adapun, saya menuliskan hal ini tidak lebih sebagai sarana self healing dan therapeutic. Semata-mata demi menenangkan psikis saya yang tengah jenuh hingga berujung mager bertubi-tubi, halah.

Tetep sih ya, ujung-ujungnya kerjaaan enggak bakalan kelar kalau dibiarkan berlarut-larut gini. Terlebih, dalam kondisi saya yang bisa dibilang lagi males-malesnya gini, hahaa. Lantas, apa saja sih yang membuat saya jenuh akhir-akhir ini? Mungkinkah disebabkan oleh masalah pribadi sepenuhnya? Saya rasa tidak juga kok.

Saat Diri Menempatkan Dunia di Hati

Jadikan Akhirat di Hatimu, Dunia di Tanganmu, dan Kematian di Pelupuk Matamu.

Imam Syafi’i.

Kalau ingat ini, mesti berucap banyak istighfar dalam hati. Bisa jadi, dari awal niat saya memang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya. Hingga abai pada hak-hak Allah didalamnya. Padahal, sejatinya yang memberi rejeki kan jelas Allah, kenapa saya sampai begitu songong bahkan ngeyel untuk mengabaikanNya. Astaghfirullah, lagi-lagi istighfar. Dalam hal ini, jujur dari awal suami sudah mengingatkan, untuk jangan terlalu ngoyo lah, sadar untuk ingat dengan kewajiban lainnya yang mesti ditunaikan, bahkan sampai pernah suatu hari suami menyuruh saya untuk berhenti dari semua aktivitas yang saya sukai ini.

Namun, lagi-lagi kala itu saya ngeles dan bilang ke paksu bahwa saya bisa mempertanggungjawabkan semua ini. Tapi nyatanya, justru saya akhirnya yang terseret-seret bahkan khilaf hingga mengabaikan “AMANAH” yang sesungguhnya Allah titipkan untuk diri ini. Sumpah deh, rasanya gue mau nangis dan jadi galau buat mundur cantik dikit-dikit, hiks.

Membatasi Ruang Interaksi

lebih tepatnya, cenderung banyak diam dan tidak mau berbagi cerita. Bagi saya, bekerja dalam diam dan menikmati semua kesibukan di tengah keheningan adalah cara ampuh untuk menyelesaikan semua kerjaan. Namun, nyatanya model seperti itu enggak berlaku bagi saya yang mantan ekstrovert ini, mengingat kini saya telah menjelma jadi orang yang ambivert, wkwkkw.

Meski di lapangan bertemu banyak orang dan mendapatkan relasi dekat, tapi sulit bagi saya untuk berucap keluh. Bahkan, untuk sekadar curhat bahwa saya sedang jenuh saja rasanya malu. Ya tahu lah yaa, kehidupan pasca menikah kan sudah “masing-masing”, jadi saya sok tegar gitu enggan rasanya buat curhat soal pribadi ke teman-teman dekat. Padahal mah sesungguhnya saya rapuh banget. Dan, akhirnya tetap curhat juga sama Allah dan suami, lalu berakhir mewek tiada akhir, lantaran merasa berdosa. Tuh kan, makin dewasa ini saya cengeng banget deh!

Kurang ‘PIKNIK’

Piknik dalam konteks ini bukan hanya soal rekreasi aja, tapi lebih pada wisata hati, tsah! Yup, nampaknya hati saya memang lagi butuh penyegaran, tapi bukan untuk sekadar refresh ke mall, tempat hiburan dan tempat wisata aja. kendati sebenarnya saya juga butuh itu, buat naik-naik ke puncak gunung, hahaha. Namun lebih tertuju pada KAJIAN ILMU, jujur saya kangen banget datang ke tempat itu. Sebenarnya, bisa aja sih dengerin kajian via streaming di youtube, tapi kok feelnya beda aja. Lebih greget kalau dateng langsung gitu, bahasanya sih cirambay di TKP.

Namun apa daya, meluangkan waktu di weekend pun saya pelit banget. Malah memilih untuk ambil job dan kelarin kerjaan, tuh kan beneran ngejar dunia mulu judulnya. MALU, hiks.

Pada akhirnya saya menyimpulkan dan sadar bahwa apapun peran yang kita ambil, hendaknya selalu berorientasi pada Allah. Menjadikan peran yang kita ambil ini sebagai perantara untuk menjembatani diri kita agar makin dekat denganNya. Benar adanya bahwa segala hal yang berkaitan dengan dunia tepat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Yakni, tergantung dari bagaimana kita mengelola semua itu. Akankah berakhir dengan cara yang benar, atau malah berujung pada kehinaan. Dalam hati saya sangat berharap, semoga Allah menolong saya dengan sebaik-baiknya pertolongan, lalu menuntun saya untuk tepat dalam memutuskan dan menjadikan saya lebih baik lagi dalam kadar keimanan.

Terus perbanyak syukur dan memaksakan diri untuk beribadah sunah sekalipun di kala malas. Karena, sejatinya tidak ada satupun yang dapat merubah dan menolong diri kita, kecuali hanya Allah dan diri kita sendiri. Bismillah, semoga saya dapat menggenggam dua hal itu esok dan di tahun berikutnya. Aamiin.

Ludy

Sharing is caring!

4 thoughts on “Saya dan Kejenuhan di Akhir Tahun 2019

    1. Kamu keren naa, aku pun juga pengennya gitu. Dan, memang harus diupayakan ya perihal hidayah ini (aseek). Sesungguhnya, aku pengen ih ikutan kajian bareng di Jakarta sama Inaa, tapi belum tahu kapan sempatnya huhuu…

    1. Penting banget zaa, sumpah deh kerasa banget kosongnya huhu. Kalau lagi kayak gini, jadi inget kampus hahaha. Thaks a lot Ibunya Cik hihi

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares