Sebuah Pengingat, Teguran dan Kenangan di Bulan Juli

pelajaran-hidup

Kepergian orang-orang baik tak selamanya menyisakan duka. Namun, terselip pelajaran hidup yang dapat dipetik sebagai teladan. Dan, inilah catatanku!

Beberapa orang tinggal dalam hidupmu agar kau menghargai kenangan. Beberapa orang tinggal dalam kenangan agar kau menghargai hidupmu.

Fiersa Besari

Welcome August, please be kind to me! Sambil menyemangati diri agar selalu berpikir positif di segala kondisi, mengingat bulan Juli kemarin cukup banyak drama yang terjadi dan sampai membuat hati saya merana karenanya. Di sisi lain, awal Agustus ini, turunnya hujan di awal bulan seakan menjadi permulaan yang baik untuk kita semua. Maklum, Juli kemarin cuaca panas rasanya lebih mendominasi ketimbang frekuensi hujan yang turun tiap pekannya. 

Ditambah lagi, kemarin perwakilan Indonesia pada cabang Olahraga bulu tangkis Ganda Putri akhirnya pecah telor di ajang Olimpiade Tokyo 2020. Otomatis, raut wajah Greysia Polii dan Apriyani Rahayu turut menghiasi seluruh timeline media sosial tanah air hingga mendunia, lantaran keberhasilannya meraih medali emas dalam kesempatan ini. Sekali lagi, congratulations to you both! Kado spesial banget nih untuk hari Kemerdekaan negara kita di tahun ini.

Namun, sayang seribu sayang, di tengah kemeriahan euforia kali ini, pandemi nyatanya masih tetap ada. Bahkan, kondisi bumi pun saat ini belum seutuhnya pulih. Entah sampai kapan segalanya akan kembali stabil. Hal ini tentu dibarengi pula dengan diperpanjangnya PPKM level 4 hingga 9 Agustus 2021 mendatang, yang rasa-rasanya nyaris membuat tingkat kewarasan saya makin diuji.

Meski begitu, eksperimen Croffle di rumah sambil mengamati ramainya dunia per-ikoy-an para netijen terhadap influencer “idolanya” alias minta-minta, lumayanlah cukup membuat pagi saya terbahak-bahak dibuatnya. Duh, ternyata sereceh itu ya saya, hahaha. Salut deh, sama Kak Arief Muhammad as the real influencer atas ide ikoyikoy-nya yang super brilliant ini. Kendati, banyak pro dan kontra, saya sih netral ya alias bodo amat. Toh, enggak mau latah juga.

Baca Juga: Kapan Terakhir Kali Kita MengingatNya?

Sebuah Catatan di Bulan Juli 2021

pelajaran-hidup
Credit by pexels.com

Kembali lagi, dengan catatan saya di bulan Juli 2021 kemarin. Sederhananya, bisa dibilang saya tidak ingin mengulang atau bahkan mengingatnya kembali. Lantaran miris sekaligus sedih. Miris karena banyak kehilangan orang-orang terdekat, sekaligus diuji dengan orang tua yang turut sakit. Ibarat kata, sudah jatuh tertimpa tangga pula, begitupun juga dengan saya. Di tengah kesedihan yang beruntun, saya juga ikut merasakan sakitnya jatuh dari motor. Ya Allah, masya Allah wal alhamdulillah karuniaMu kali ini.

Adapun, sedihnya lantaran kondisi dompet yang kian menipis dan ATM yang terus terkuras kala itu. Sambil membatin saya meyakini, pasti gusti Allah akan menggantinya dengan rejeki yang berkali-kali lipat. Saya amat yakin dengan prinsip itu. Yang pastinya harus disertai pula dengan ikhtiar langit dan bumi dong. Bukan semata-mata hanya dengan menunggu dan berdiam diri saja.

Bulan Juli 2021 kemarin, saya memaknainya sebagai sebuah pengingat, teguran dan kenangan. Dimana, saya kembali diingatkan dengan kematian, berharganya quality time bersama orang-orang tersayang, amal ibadah, dan yang paling penting ialah tentang sabar. Sebagaimana Allah, memerintahkan kita melalui kalam cintaNya di QS. Al Baqarah ayat 45 agar menjadikan salat dan sabar sebagai penolong.

Dengan salat, maka kita dilatih untuk tunduk sekaligus menyadari bahwa kita as a human adalah makhluk yang sangat lemah sehingga menjadikan Allah sebagai satu-satunya tumpuan untuk bergantung dan memasrahkan segalanya adalah keharusan yang amat tepat. Dari sikap sabar pula kita jadi belajar untuk menjaga sekaligus mengontrol diri agar tidak menjadi manusia yang ceroboh. Sehingga tidak mudah tergelincir serta goyah saat diri tengah diuji atau bahkan dikuasai oleh emosi.

Sungguh, melalui pengingat ini saya jadi benar-benar belajar sekaligus tersadar. Ditambah, pengingat ini pun seolah menjadi satu kesatuan dengan teguran bagi saya untuk tidak terlena dengan kehidupan duniawi yang fana. Karena, kelelahan untuk mengejar kenikmatan hidup di dunia sebagai tujuan utama hanya akan berujung pada sebuah kesia-siaan dan kehampaan.

Baca Juga: 5 Tahun Hidup Bersama, Happy 5th Wedding Anniversary!

Pelajaran dari Sebuah Kenangan

kenangan
Credit by pexels.com

Pada akhirnya, dari semua rangkaian drama yang terjadi di bulan Juli lalu, menyisakan sebuah kenangan yang manis sekaligus menyedihkan. Tak bisa saya bayangkan, covid 19 nyatanya telah banyak merenggut orang-orang terdekat di sekitar saya. Meski bukan keluarga inti, tapi hati saya juga larut dalam kepedihan ini. Mengingat, paman, bibi, sepupu serta keponakan adalah keluarga yang telah mewarnai hidup saya hingga saat ini.

Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa saya ambil melalui sejumlah kenangan yang ditinggalkan oleh orang-orang baik ini. Utamanya, tentang loyalitas untuk berbagi. Sadar, bahwa segala hal yang kita miliki di dunia tidaklah sepenuhnya milik kita. Tapi juga ada hak mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Utamanya, berbagi pada keluarga yang kesusahan menjadi prioritas utama sebelum kita membantu di luar circle ini.

Disamping, masih banyak pelajaran hidup lainnya yang rasanya terlalu panjang untuk saya tuliskan di blog. Kepergian orang-orang baik ini, tak lagi menyisipkan duka, namun ada mutiara hikmah yang dapat kita teladani. Kebaikannya pun akan tetap abadi, meski raga telah menyatu dengan tanah. Ahh, sungguh, begitu sulit bagi saya untuk menguraikan kebaikan mereka satu per satu, hiks.

Demikianlah, catatan kilas balik saya di bulan Juli lalu, semoga bermanfaat bagi teman-teman semua ya. Have a nice day, SALAM WARAS!

Ludy

Leave a Reply

Close
Social profiles