Ogah Vaksin Gara-Gara Percaya Hoaks? Baca Ini!

say-no-to-hoax

Pusing dengan banyaknya kabar hoaks yang beredar seputar vaksinasi, jelas hal ini sangat mengganggu dong. Lantas, upaya apa nih yang bisa kita lakukan untuk menghindari kabar hoaks ini? Selengkapnya, baca disini ya!

Enggan vaksin lantaran meyakini hoaks yang makin beredar akhir-akhir ini, jujur cukup menyita perhatian saya. Khususnya, terhadap negeri ini, Indonesia, tanah air yang sangat saya cintai. Alih-alih menyalahkan pemerintah beserta jajarannya, justru yang sangat saya sayangkan ialah narasi masyarakat netijen +628 saat ini yang makin ngaco dari hari ke hari. 

Seakan memiliki kiblatnya sendiri dalam menyuarakan lonjakan covid di negeri ini. Dan mereka itulah para COVIDIOT, yang terang-terangan tidak meyakini adanya covid, mengabaikan prokes, dan bahkan tragisnya banyak diantara mereka yang justru meregang nyawa lantaran termakan virus covid itu sendiri. Ahh, sedih lah pokoknya.

Bicara soal covid 19 serta kaitannya dengan vaksin, dari perspektif saya sebagai seorang ibu tentu hal ini sangat perlu diperhatikan. Bukan lagi sebatas isu apalagi wacana. Mengingat, hingga hari ini lonjakan kematian akibat covid, khususnya varian Delta, jumlahnya kian bertambah. Bahkan, telah mencapai angka hingga 1.000 jiwa lebih per harinya. Miris!

Tidak hanya itu, jelas dari kondisi ini pun para tenaga kesehatan banyak yang ikut tumbang, sirene ambulance makin sering terdengar di tiap sudut jalan, serta bisa dipastikan pula nyaris seluruh IGD di rumah sakit FULL tak bersisa. Berbagai upaya dari berbagai sektor pun terus digenjot, demi menekan laju pertambahan angka positif covid.

Utamanya nih, penting banget untuk mengedukasi masyarakat kita saat ini agar tidak makin bobrok dalam memahami permasalahan covid ini. Terlebih jangan sampai meyakini berbagai hoaks yang banyak beredar di sosial media, seperti, twitter, facebook, termasuk WhatsApp grup sekalipun.

Sehingga, enggak ada lagi tuh yang percaya stigma “dicovidkan” oleh rumah sakit, interaksi sejumlah obat bisa bikin meninggal, terdapat chip dalam vaksin, ada kandungan babi pada vaksin dari China, dan masih banyak lagi kabar berseliweran lainnya. Duh, please deh hari gini masih ada gitu yang mau dibodohi sama hoaks?! Yuk, pasang akal sehatnya baik-baik.

Baca Juga: Anak Kembali ke Sekolah di Masa Pandemi, Yakin Rela?

Hindari Hoaks dan Cermat Menyaring Informasi

vaksinasi-aman

Bersyukur sekali, beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti Webinar yang diselenggarakan oleh Kominfo dan Universitas Pelita Harapan (UPH) pada Rabu (14/7) lalu yang mengangkat tema No Hoax: Vaksin Aman, Hati Nyaman. Dari temanya sendiri, sangat relate dengan situasi masyarakat saat ini yang cenderung lebih mempercayai hoaks. Ketimbang meyakini data dan informasi yang sebenarnya. Khususnya seputar vaksinasi.

Ditambah lagi, saat ini kita berada di era post truth dan echo chamber, yang mana kebenaran, fakta, dan bukti tidak dinilai terlalu penting. Selagi narasi, cerita, dan pemikiran diterima berdasarkan kesamaan pandangan, pikiran, dan keyakinan. Jelas, kondisi ini selaras dengan subjektivitas netijen kita saat ini yang sepertinya makin sesat lantaran meyakini hoaks.

Hal inilah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Widodo Muktiyo selaku Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Kominfo dalam pemaparannya kali ini.

Baca Juga: Ragam Tren Hobi Seru Selama Pandemi: Dijamin Anti Boring!

Tidak hanya itu, beliau juga menjelaskan beberapa bentuk dan saluran hoaks yang paling banyak diterima oleh masyarakat. Diantaranya, dalam bentuk narasi berupa tulisan yang persentasenya paling tinggi, yakni 62,10%. Kemudian, disusul dalam bentuk gambar berupa foto dan video.

Dalam konteks ini, patut diperhatikan pula bahwa saluran media sosial memegang kendali utama dalam saluran penyebaran berita hoaks, yakni sekitar 92,40%. Indeed, wajar sih sosmed saat ini menjadi konsumsi netijen kita setiap hari lantaran sifatnya yang mudah diakses.

Menyusul, aplikasi chatting, sekitar 62,80%, seperti aplikasi WhatsApp yang didalamnya terdapat fitur WAG, sehingga makin memudahkan masyarakat dalam menyebarkan berita hoaks. Duh, kalau kayak gini, gimana enggak nyebelin coba?!

hindari-kabar-hoaks

Selain itu, sebagai netijen kita perlu banget nih untuk menyaring berita dengan tepat dan cermat dalam memperhatikan rambu-rambu hoaks seperti berikut ini:

  • Berita hoaks biasanya berasal dari sumber berita yang tidak jelas. Perlu dicari tahu lebih lanjut apakah berita tersebut berasal dari media mainstream serta tersertifikasi oleh Dewan Pers
  • Info yang tersebar memuat keanehan atau ketidakwajaran berita
  • Berita hoaks cenderung menggunakan bahasa yang provokatif
  • Umumnya berita hoaks ini tidak sesuai dengan isi berita dengan judul yang tertulis
  • Berita hoaks biasanya tidak mencantumkan waktu kejadian atau tanggal berita tersebut dibuat
  • Informasi hoaks cenderung mendiskreditkan pihak tertentu dan menyampaikan informasi yang tidak berimbang. Serta, kerap memuat instruksi agar informasi hoaks tersebut disebarkan secara luas
  • Ada ancaman tertentu bagi pembaca jika tidak menyebarkan berita hoaks tersebut.

Well, sampai sini cukup jelas, kan?! Jadi sebelum meyakini isi berita yang beredar, cek aja dulu di www.cekhoaks.id, biar enggak kemakan hoaks dan pastinya enggak kebawa stress, hihii.

Taati Prosedur Kesehatan dan Lakukan Vaksinasi!

Sadar, khususnya selama masa pandemi covid 19 ini, semakin banyak kabar hoaks yang beredar utamanya terkait masalah kesehatan dan vaksinasi. Mirisnya, banyak diantara kita yang justru meyakini kabar hoaks tersebut secara membabi buta. Dan, seperti yang telah saya tuliskan diatas, penting bagi kita untuk menyaring dan mencermati terlebih dulu setiap kabar yang diterima. Semata-mata agar kita terhindar dari paparan informasi hoaks.

say-no-to-hoax

Hal ini pun senada dengan pernyataan dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid. selaku Juru Bicara Vaksinasi Covid 19 Kementerian Kesehatan. Beliau menjelaskan dengan gamblang dalam kesempatan ini terkait informasi hoaks yang menyangkut vaksinasi.

Beliau memaparkan, dimana vaksinasi saat ini difokuskan pada daerah-daerah dengan kasus dan mobilitas yang tinggi, seperti wilayah pulau Jawa dan Bali. Mengingat, sepanjang masa pandemi ini, perilaku pencegahan covid 19 belum konsisten dan belum sepenuhnya menjadi bagian dari norma masyarakat.

Ditambah lagi, tingkat pengetahuan terkait gejala dan penularan covid 19 di Indonesia masih termasuk rendah (<15%) dan efikasi diri dalam menghadapi pandemi ini juga rendah (34%). Sumpah, kalau lihat data-data ini jadi pengen nangis deh!

Padahal, program vaksinasi ini sendiri tujuan utamanya ialah untuk membentuk herd immunity guna memberikan perlindungan bagi masyarakat agar terhindar dari paparan covid 19. Lantas, sangat disayangkan, jika program ini tidak serta merta didukung oleh masyarakat sepenuhnya untuk melakukan vaksinasi, lantaran lebih mempercayai hoaks ketimbang data ilmiah.

Pasalnya, dalam konteks ini dr. Siti Nadia telah menjamin bahwa vaksin ini aman dan halal, serta izin penggunaan darurat oleh BPOM serta MUI juga sudah diberikan. Otomatis, dari segi keamanan dan kualitas pun juga sudah teruji. So, sayang banget dong kalau enggak vaksin!

Baca Juga: Inilah 7 Hal Penting Seputar Vaksinasi Anak

Kritis dalam Menyikapi Informasi Hoaks Terkait Covid 19

Lanjut, pemaparan dari Dr. Benedictus A. Simangunsong selaku Ketua Prodi Magister Komunikasi UPH. Ada catatan menarik yang membuat saya terkejut dari penjelasan beliau kali ini, yakni terkait data Kemenkominfo hingga awal Juni 2021 yang menyebut sudah ada 1.625 hoaks mengenai Covid 19. Ditambah, ada sekitar 1.700an hoaks yang beredar hingga detik ini.

Itu artinya, perlu adanya strategi serta upaya penting bagi kita semua agar lebih terliterasi alias bisa lebih melek dan kritis dalam melihat informasi yang acuannya tidak hanya mengandalkan nalar. Namun, juga lebih jeli dalam menganalisis data dan fakta.

berita-hoaks

Oleh sebab itu, beliau menyampaikan strategi dalam melawan informasi hoaks terkait pandemi saat ini, antara lain:

  • Melalui kolaborasi, kita dapat memberikan penguatan bagi organisasi (fact = checking), serta membantu publik dalam mendapatkan informasi sesuai fakta
  • Penting, untuk memperkuat literasi individu dan komunitas. Mengingat, semakin tinggi tingkat literasi seseorang, maka semakin mampu melihat berbagai macam dimensi dari konten yang diterima. Dan, sebaliknya semakin rendah tingkat literasi, maka semakin tidak mampu dalam melihat berbagai macam dimensi dan konten yang diterimanya.

Well, selamat memilih ya, good people. Kira-kira, kita ada di posisi yang mana nih? Yuk, jadi netijen yang cerdas dan jeli dalam memandang berbagai informasi, khususnya di masa pandemi saat ini.

Semoga rangkuman saya kali ini bermanfaat ya teman-teman, say no to HOAX and have a good day, SALAM WARAS!

Ludy

Leave a Reply

Close
Social profiles