Stop Food Waste, Cara Saya Wujudkan Mitigasi Perubahan Iklim dari Rumah

stop-food-waste

Stop food waste, menjadi salah satu cara yang saya pilih untuk turut berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Lalu, bagaimana saya merealisasikan cara ini dari rumah? Yuk, langsung baca aja disini!

Cutting food waste is a delicious way of saving money, helping to feed the world and protect the planet.

– Tristram Stuart

Selamatkan bumi kita dengan mulai stop food waste dari rumah, kenapa enggak? Poin inilah, yang akhir-akhir ini menjadi bahan perenungan saya sebagai ibu muda yang hobinya makan sekaligus sambat. Terlebih, dengan situasi bumi saat ini yang suhunya makin memanas lantaran perubahan iklim. Jujur, siapa sih yang enggak gelisah? Saya pun merasakan hal demikian hingga mengelus dada, membayangkan akan seperti apa nantinya nasib anak cucu kita jika kondisi bumi kian memburuk.

Maka, stop food waste, menjadi salah satu langkah kecil yang saya upayakan dari rumah bersama keluarga tersayang #UntukmuBumiku. Kesadaran saya akan food waste ini pun makin bertambah saat mengetahui negara kita, Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai penghasil sampah makanan terbanyak di dunia, yakni sekitar 300 kg tiap individu pada tahun 2017.

Melihat data tersebut, saya akui cukup miris jika dibandingkan dengan tingkat kelaparan di Indonesia yang masih dalam kategori serius. Padahal, jika diperhitungkan secara seksama, jumlah 300 kg per individu ini nyatanya dapat menghidupi 28 juta atau 11% penduduk di Indonesia lho. Utamanya, bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan dan menderita kelaparan. Sungguh, cukup mencengangkan, bukan?!

Cari Tahu Perbedaan Food Loss dan Food Waste

stop-food-waste

Siang tadi, panas masih terasa begitu terik sama seperti hari-hari biasa. Sambil membuat catatan shopping list di buku harian, kembali pula saya membuka catatan penting lainnya di buku yang sama terkait food waste saat mengikuti webinar beberapa waktu lalu.

Nyatanya, sampah makanan ini terdiri dari dua bagian, yaitu food loss dan food waste. Dimana, kedua jenis sampah makanan ini mempunyai perbedaannya masing-masing. Kira-kira, apa saja sih, ini dia selengkapnya:

Food Loss

Food loss adalah sampah makanan yang bersumber dari bahan pangan seperti buah-buahan, sayuran, atau makanan yang masih mentah tapi sayangnya tidak bisa diolah lagi dan akhirnya terbuang begitu saja. Mirisnya, food loss ini menyebabkan masyarakat sulit mendapatkan bahan makanan untuk dimasak.

Kasus food loss ini sendiri di Indonesia sudah banyak terjadi, terlebih ketika harga bahan pangan mengalami penurunan drastis. Contohnya, seperti beberapa peternak di Magetan, Jawa Timur yang merasa kecewa dengan terus menurunnya harga telur di pasaran sampai melampiaskan kemarahannya dengan nekat membuang semua telur ayamnya ke sawah. Duh, sayang banget enggak sih buang-buang telur gitu. Mending kasih emaknya Khadijah aja sini, lumayan kan bisa buat bagi-bagi tetangga se-komplek, hehe.

Faktanya, penyebab food loss ini bukan hanya itu saja lho, masih ada beberapa penyebab lainnya yang mesti teman-teman ketahui, yaitu:

  • Proses pra-panen tidak menghasilkan mutu yang sesuai dengan keinginan pasar
  • Terdapat kesalahan dalam penyimpanan, penanganan, pengemasan sehingga produsen memutuskan untuk membuang bahan makanan tersebut begitu saja
  • Permintaan konsumen di pasar menurun
  • Adanya permainan harga pasar antara distributor dan agen yang menyebabkan harga bahan pangan meningkat tajam dan ujungnya malah tidak terjual
  • Terlalu lama penyimpanan di gudang hingga menyebabkan bahan pangan berjamur, basi dan berbau busuk
  • Penyimpanan makanan dilakukan dengan cara yang kurang tepat sehingga umur makanan menjadi pendek
  • Kurang bijak saat membeli bahan makanan, hingga akhirnya bahan makanan tersebut membusuk lantaran menumpuk di tempat penyimpanan.

Food Waste

Food waste sendiri merupakan makanan siap konsumsi yang pada akhirnya terbuang dan kemudian menumpuk dalam timbunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dimana, food waste yang menumpuk di TPA ini akan menghasilkan gas metana dan karbondioksida, yang mana kita ketahui kedua gas ini tidak sehat untuk bumi kita. Dan, berikut ini adalah penyebab food waste lainnya, yaitu:

  • Kebiasaan tidak menghabiskan makanan
  • Mengambil porsi makanan secara berlebihan
  • Memasak atau membeli makanan yang tidak disukai
  • Life style (rasa gengsi) jika menghabiskan makanan di muka umum.

Bahaya Mengintai Dibalik Sampah Makanan

kurangi-sampah-makanan

Sebagai ibu muda yang turut serta mengambil peran sebagai #MudaMudiBumi, merasa prihatin sekaligus cemas dengan kondisi sampah makanan yang jumlahnya hingga kini terus meningkat. Diketahui, berdasarkan data yang dirilis oleh UN Environment Programme’s (UNEP) dalam Food Waste Index Report 2021 terdapat lebih dari 931 juta ton makanan terbuang pada tahun 2019 di seluruh dunia. Dimana, dari total sampah makanan tersebut menghasilkan delapan hingga 10 persen emisi gas rumah kaca di tingkal global. Duh, miris banget kan?!

Belum lagi, bahaya yang mengintai dibalik sampah makanan ini, tentunya dapat mengancam keberlangsungan hidup kita serta makhluk hidup lainnya di masa depan. Lantas, apa saja sih bahayanya? Cuss, cari tahu disini!

Timbunan Sampah Makanan Dapat Menghasilkan Gas Metana

Timbunan sampah makanan yang terbuang dan menimbun dalam jumlah banyak di TPA dengan kondisi yang rusak, mulai membusuk dan terdegradasi akan menghasilkan gas metana yang kemudian dilepaskan ke lingkungan. Which is, kita sama-sama tahu kan, kalau gas metana ini adalah salah satu gas rumah kaca yang turut berkontribusi dalam pemanasan global.

Tragisnya lagi, akumulasi sampah dan gas metana ini dapat memicu terjadinya bencana ledakan sampah, yang pastinya juga dapat memicu bencana lainnya. Seperti, bencana longsor yang akibatnya pun dapat menelan korban jiwa.

Membuang Banyak Pasokan Air

Proses sebuah makanan hingga akhirnya dapat tersaji di atas piring dengan nikmat tentu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dan, dalam proses tersebut tentu membutuhkan banyak air, utamanya dalam produksi makanan. Mulai dari sektor agrikultur berupa sayur dan buah, serta peternakan yang menghasilkan protein hewani yang kerap kita konsumsi setiap hari.

Otomatis, jika kita membuang makanan begitu saja, maka sama saja dengan kita menyia-nyiakan banyak air yang diinvestasikan dalam produksi makanan dalam sajian piring kita. Perlu diketahui, jika kita membuang 1 kg daging sama saja dengan kita membuang 50.000 liter air yang dikeluarkan untuk produksi daging. Ditambah, untuk agrikultur sendiri sebanyak 70% air di dunia digunakan untuk proses tersebut. Jadi, please dong jangan buang-buang makanan, nyatanya rugi banget lho kita!

Menyia-nyiakan Fungsi Lahan

Seiring dengan jumlah sampah yang kian bertambah dan tidak disertai pula dengan pengelolaan sampah yang baik di TPA, lama-kelamaan sampah akan menumpuk dan menggunung. Otomatis, dibutuhkan lahan tambahan untuk memperluas tempat pembuangan sampah. Sehingga, lahan yang harusnya digarap menjadi lahan hijau produktif, justru harus dialihfungsikan sebagai TPA. Duh, sayang banget gak sih?!

Minyak Bumi Terbuang Sia-sia

Tanpa kita sadari, proses produksi makanan yang kita santap sehari-hari tentu melibatkan banyak sekali komponen yang digunakan. Dimana, dalam prosesnya tersebut pasti membutuhkan minyak bumi. Contohnya, untuk mendapatkan sebutir nasi, ada kerja keras petani saat menggarap lahan sawahnya dengan menggunakan traktor yang bahan bakarnya pun berupa minyak bumi.

Maka, kalau dianalogikan, jelas banget ketika kita membuang makanan begitu saja ke tempat sampah sama halnya dengan kita menyia-nyiakan minyak bumi yang dikeluarkan dalam proses produksi tersebut. Jadi, yuk, pikir-pikir lagi deh sebelum buang-buang makanan!

Mengancam Keberagaman Makhluk Hidup

Jelas, bisa dikatakan hal ini adalah faktor dari keserakahan manusia. Dimana, sampah makanan yang terbuang ini dapat mengancam ekosistem keberagaman makhluk hidup. Sebut saja, usaha industrialisasi makanan, dimana kebutuhan makanan tertentu yang diproduksi meningkat. Padahal, jika dicermati baik-baik, jumlah makanan yang dibutuhkan ini tidak sebesar yang diproduksi.

Dampak buruknya, lahan hutan banyak yang dialihfungsikan menjadi lahan peternakan dan lahan perkebunan. Otomatis, akibat alih fungsi lahan ini pun menyebabkan banyak flora dan fauna kehilangan habitatnya hingga terancam punah. Hiks, sedih banget!

Inilah Caraku Kurangi Food Waste dari Rumah

reduce-food-waste

Sadar bahwa hobi jajan dan ngemil saya di rumah nyatanya turut berkontribusi dalam meningkatkan jumlah sampah makanan di dunia, khususnya di Indonesia. Maka, mau tidak mau, kebiasaan ini pun mesti diiringi pula dengan kesadaran untuk #TimeforActionIndonesia guna melindungi bumi dari perubahan iklim agar suhunya tidak terus meningkat. Duh, yang sekarang aja panasnya udah enggak nahan, gimana nanti coba!

Untuk itu, tepat di Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober ini, SAYA BERSUMPAH UNTUK SELALU MENGHABISKAN MAKANAN, TANPA MENYISAKANNYA SEDIKITPUN DI ATAS PIRING.

Dan, untuk menegaskannya, berikut ini adalah beberapa cara yang saya lakukan untuk mengurangi food waste dari rumah. Yuk, simak baik-baik!

  1. Bijak saat berbelanja dengan membeli makanan sesuai kebutuhan yang tertulis di shopping list
  2. Menyimpan makanan dengan baik, utamanya dengan menyimpan makanan di dalam kulkas
  3. Rutin menerapkan manajemen isi kulkas
  4. Memasak makanan secukupnya berdasarkan meal plan yang ditentukan
  5. Membuat kompos dari sisa makanan
  6. Menanam bahan dan bumbu dapur sendiri dari rumah, meski belum banyak, tapi upaya ini sangat menghemat pengeluaran saya khususnya
  7. Dan, yang paling penting ialah untuk selalu mindfull dalam mengonsumsi makanan dan menghabiskan makanan yang diambil.

Conclusion

Saat ini, bumi kita telah memasuki kategori red flag, yang artinya jika tidak dilakukan penanggulangan apapun dari sekarang, maka bersiaplah dengan berbagai ancaman kehidupan yang dapat membahayakan eksistensi manusia serta makhluk hidup lainnya di masa depan.

Lantas, untuk menyikapi global warming ini, saya memulai langkah terkecil dengan mulai stop food waste dari rumah. Dimana, saya melakukan langkah ini dengan penuh kesadaran untuk melindungi dan menjaga bumi agar tetap lestari dan keragaman makhluk hidup lainnya pun terus berlangsung.

Kesadaran ini dibangun dengan melihat banyaknya data penelitian yang telah dibuktikan secara ilmiah, fakta kerusakan lingkungan secara real, termasuk pula bahaya serta dampak negatif yang mengintai dibalik sampah makanan ini. Semoga, saya dan teman-teman semua bisa konsisten untuk terus menjaga bumi dan melestarikan alam dengan sebaik-baiknya melalui langkah kecil ini. Aamiin.

Finally, semoga catatan saya kali ini bermanfaat ya untuk teman-teman semua, have a nice day and save our planet. SALAM WARAS!

Ludy

Sumber:

  • https://www.unep.org/resources/report/unep-food-waste-index-report-2021
  • https://mediaindonesia.com/read/detail/282977-wow-1-orang-indonesia-hasilkan-sampah-makanan-300-kg-per-tahun
  • https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/perbedaan-food-loss-dan-food-waste/
  • https://cimsa.ui.ac.id/2020/11/09/food-waste-dan-pengaruhnya-terhadap-lingkungan/

2 thoughts on “Stop Food Waste, Cara Saya Wujudkan Mitigasi Perubahan Iklim dari Rumah

  1. ini yang paling susah banget ya. tinggal berdua sering suak ada banyak sisa makanan. Jadi masak sedikit kalau habis beli di luar saja , tapi tetep saja ada sisa.Kadang suka sedih sendiri sih

  2. Dari kecil aku dididik Ama mama jgn pernah buang makanan. Kalo kami Kaka beradik mulai nyisain makanan, mama bisa pnjang lebar ceramah ttg anak2 kelaparan di Afrika dan tempat2 lain.

    Sekarang setelah jadi ibu, itu juga yg aku tekankan ke anak2. Jangan pernah nyisain makanan, kecuali kalo memang rasanya udah super duper ga kemakan, contohnya ketumoahan garam mungkin, yg bikin asinnya di atas normal :D. Kalo itu ya sudahlaaah, tapi tiap kali aku terpaksa membuang makanan begitu, itu jujur nyeseeeek banget mba.

    Kalo ada makanan sisa di rumah, aku biasanya KSH ke kucing, kalo berupa daging2an yaaa. Tapi kalo berupa sayuran, aku paksa utk tetep dihabiskan di besok harinya Hahahhaa. Tapi skr aku JD tau sih berapa yg hrs dimasak supaya ga kebuang. Kalo mama ku dulu, menu yg ga abis hari ini, bakal dihidangin lagi besoknya, sampe bner2 abis. Tapi suamiku terbiasa menu makanan siang dan malam aja beda, kebiasaan dr keluarganya. Makanya pas awal nikah aku ngomel2 wkwkwkwk. Aku biasain harus ttp abisin itu makanan 😄.

    Kadang kalo sedang jalan keluar, teus ketemu anak2 jalanan yg sedang jualan tisu ATO apapun, aku KSH liat ke anak2ku, gimana susah ya mereka mencari makan. Sementara mereka yg tinggal duduk manis malah nyisain. Biasanya LGS pada nurut sih, mau ngabisin 😀

Leave a Reply

Close
Social profiles