Jakarta: Menuju Kota Ramah Anak

Kota Jakarta dengan berjuta kisah dan histori didalamnya selalu memberikan kesan berarti bagi siapun yang melihatnya. Hal tersebut terlihat dari sejumlah bangunan tua dengan ciri khas arsitektur peninggalan kolonial Belanda yang turut mewarnai keindahan jakarta. Sehingga, menjadikannya semakin menarik dan mengundang perhatian besar masyarakat untuk dikunjungi.
Baru-baru ini, saya dibuat takjub dengan beberapa fasilitas umum di Jakarta yang terbilang ramah anak. Mengingat, warga Jakarta sendiri khususnya sangat merindukan tempat-tempat fasilitas umum yang juga layak untuk dinikmati anak-anak. Selain itu, tempat-tempat tersebut nyatanya juga bukan hanya untuk rekreasi semata. Tetapi, didalamnya juga terdapat banyak nilai-nilai edukasi yang dapat ditanamkan pada anak-anak sejak dini. So, jadi penasaran kan? Pastinya.
Meski, Kota Jakarta belum sepenuhnya mengimplementasikan prinsip Kota Layak Anak (KLA) yang sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No.12 tahun 2011. Namun, beberapa indikator di dalamya saat ini tengah gencar dikembangkan. Adapun, beberapa indikatornya antara lain, seperti: (1) Persentase anak yang teregistrasi dan mendapatkan Akta Kelahiran secara langsung setelah dilahirkan; (2) Anak dari keluarga miskin mendapatkan akses peningkatan kesejahteraan berupa Kartu Jakarta Pintar (KJP); (3) Dan, ini yang menjadi poin utama kita, yakni tersedia fasilitas umum untuk rekreasi dan informatif yang ramah anak, di luar sekolah, serta dapat diakses semua anak. Apalagi, kalau gratis, tentunya ibu dan bapaknya makin senang dan bahagia.
Then, tempat apa aja sih yang recommended untuk dikunjungi? Jadi, pekan lalu saya dan suami beserta kakak bayi yang masih satu-satunya, mengunjungi beberapa tempat yang menurut kami menarik untuk dikunjungi. Sebelum pergi, saya sempat membuat itinerary guna memudahkan agenda kami. Adapun tiga tempat yang akan kami kunjungi, yaitu Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng sebagai penutup agenda perjalanan kami.
Pertama kali menginjakan kaki di Perpusnas RI di lantai 1, kami sempat dibuat takjub. Hal pertama yang membuat kami takjub adalah keberadaan rak buku besar yang menjulang tinggi ke atas. Didalamnya, berjejer buku-buku tua dan tebal yang di tata begitu rapi dan apik. Sontak, agak norak sih, tapi bagi kami hal itu sangat menarik untuk dilihat apalagi untuk sekedar swafoto disana, hehehe. Setelah itu, kami pun segera pergi menuju lantai 7 yang menjadi target utama kami, karena disana terdapat perpusatakaan untuk anak, lansia dan disabilitas.
Lagi-lagi, tempat hangout anak yang kami cari. Saat pertama kali masuk ke ruangan perpustakaan anak, ternyata begitu ramai pengunjung. Desain ruangannya dikondisikan sesuai dengan kebutuhan anak, dan playground lah yang menjadi sasaran utamanya. Adapun, tempat sakral yang paling penting disana adalah keberadaan ruang laktasi yang pastinya membantu saya banget untuk menyusui kakak bayi. Jadi tambah senang tentunya.
Setelah puas bermain di Perpusnas RI, kami pun singgah ke Masjid Istiqlal. Tidak hanya sekadar shalat, tetapi kami juga berjalan-jalan mengelilingi sekitar bangunan masjid tersebut. Dan, adapun hal utama yang kami lihat disana ialah Masjid Istiqlal ialah tidak hanya ramai dikunjungi oleh warga Jabodetabek namun juga dipadati oleh orang-orang dari berbagai daerah untuk melihat secara langsung betapa besarnya Masjid Istiqlal yang menjadi salah satu simbol di Indonesia.
Setelah shalat ashar dan melihat-lihat keindahan arsitektur Masjid Istiqlal, tujuan tempat berikutnya adalah Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Dan, destinasi Lapangan Benteng rupanya sangat tepat menjadi kunjungan terakhir kami berjalan-jalan di Kota Jakarta. Saat kami mengunjungi tempat tersebut ternyata sangat ramai, terlebih di area playgroundnya. Terlihat tumpah ruah, dimana pengunjung dan pedagang membaur jadi satu. Di Lapangan Banteng pula kita dapat menemukan sejumlah catatan-catatan sejarah yang digambarkan dalam bentuk museum mini di sekitar lokasi. Sungguh menarik perhatian.
Kami pun menghabiskan malam minggu kami dengan suguhan pertunjukan air mancur yang berlansung sebanyak 2 kali. Sesi pertama dilaksanakan pada pukul 18.30 dengan durasi 30 menit. Kemudian, sesi kedua berlangsung pada pukul 19.30 dengan durasi yang sama pula. Pemandangan malam itu begitu apik, dengan dikombinasikan permainan cahaya dan alunan lagu daerah dan kebangsaan. Sungguh liburan yang bermanfaat, bukan hanya sekedar rekreasi tapi  juga mengedukasi. Selamat berlibur!
 
 
 

Sharing is caring!

4 thoughts on “Jakarta: Menuju Kota Ramah Anak

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares