Lestarikan Hutan Indonesia untuk Iklim yang Lebih Baik

hutan Indonesia

Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada bulan April ini, kira-kira aksi nyata apa saja yang sudah kita lakukan untuk merawat bumi tercinta? Lantas, apa pula kaitannya kelestarian hutan dengan krisis iklim? Selengkapnya, yuk, cari tahu disini!

Suatu hari, tepat ketika dosen tengah menjelaskan materi di depan kelas tentang konservasi. Dalam hati saya sempat membatin, apa sih sulitnya melestarikan? Toh nantinya juga akan banyak pihak yang terlibat dan turut berkontribusi dalam upaya ini. Namun dengan cepat, saya segera menangkis pertanyaan laknat itu. Mengingat, tanpa perlu mengacungkan jari lagi, seorang pria paruh baya di depan kelas kala itu dengan sigapnya langsung menyanggah keangkuhan saya yang tengah asyik membatin di pojokkan.

Dengan tenang beliau menyampaikan, bahwa manusia yang waras itu banyak. Tapi yang waras dengan sesadar-sadarnya justru jumlahnya tidak banyak. Malah bisa dihitung dengan jari. Beberapa diantara mereka, lebih senang beraksi dalam sunyi ketimbang harus hadir secara fisik di permukaan. Saya yang sadar dengan penjelasan beliau saat itu pun langsung meng-iya-kan pemaparannya tanpa bantahan sedikitpun.

Lecture
Credit by pexels.com

Sekaligus juga membenarkan bahwa manusia dengan kewarasan yang sebenar-benarnya sudah tentu amat menyukai kesibukan dalam diamnya daripada dihujani pujian. Dan, seperti itulah gambaran realita yang jarang terlihat pada masyarakat kita hari ini. Apalagi jika dikaitkan tentang upaya konservasi, sebagai upaya penyelamatan lingkungan kita saat ini. Bagi mereka, pujian tak kan pernah menjadi cambuk, manakala alam terusik dengan adanya perubahan iklim.

Bicara tentang perubahan iklim, nampaknya sudah menjadi luka lama yang kian mengiris dan menggores seluruh lapisan. Tanpa terkecuali. Tragisnya, dampak dari perubahan iklim ini sudah kita rasakan kesenjangannya dari hari ke hari. Miris memang, karena perubahan iklim ini sendiri diibaratkan sebagai sel kanker yang kian hari terus menggerogoti inangnya dimana ia bernaung, tanpa mau peduli apakah inangnya ini tersakiti atau tidak.

Sambut Hari Bumi dengan Kesadaran Membumi

Dalam rangka menyambut Hari Bumi yang jatuh pada bulan April ini, saya bersyukur sekali karena berkesempatan untuk bisa bergabung dalam Eco Blogger Squad Earth Day Gathering bersama kakak-kakak dari LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Hutan itu Indonesia (HII), dan Blogger Perempuan Network (BPN) pada Senin, 14 April 2021 lalu. Acara yang mengangkat tema “Hutan Indonesia sebagai Salah Satu Solusi dalam Mitigasi Perubahan Iklim” ini dikemas dengan sangat menarik, informatif, dan edukatif.

Earth day gathering

Tidak hanya itu, melalui acara ini pula kami semua teman-teman Eco Blogger Squad pun jadi semakin sadar dan semangat untuk dapat menyuarakan isu-isu terkait kerusakan hutan. Dimana, dampak dari kerusakan ini telah kita rasakan secara langsung sejak beberapa tahun terakhir, yakni krisis perubahan iklim yang terus berkepanjangan.

Mengingat, masalah perubahan iklim ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya terbatas pada beberapa sektor, atau bahkan stakeholder dari instansi terkait. Utamanya, semua pihak juga mesti dilibatkan. Terlebih, dampak dari perubahan iklim ini sendiri sangat besar dalam memengaruhi keberlangsungan makhluk hidup lainnya di bumi kita tercinta.

So, kira-kira materi apa aja nih yang saya dapakan dari keseruan webinar kemarin, mau tahu? Berikut, rangkumannya, check this out!

Mencari Arti Kelestarian Dibalik Krisis Iklim

Kondisi perubahan iklim yang kita rasakan saat ini, nyatanya telah banyak mempengaruhi sistem bumi kita sekaligus diri dan lingkungan sekitar kita. Hal ini dijelaskan secara langsung oleh Yuyun Harmono selaku Manajer Kampanye Keadilan Iklim WALHI pada sesi pertama webinar. Dia menambahkan, bahwa kondisi bumi saat ini dengan masalah perubahan iklimnya juga ikut dipengaruhi oleh perilaku manusia itu sendiri, yang didalamnya mencakup perilaku individu, perilaku ekonomi, perilaku sosial, serta model produksi dan konsumsi.

Otomatis, apapun yang kita lakukan saat ini termasuk penerapan gaya hidup sehari-hari, secara langsung ataupun tidak langsung dampaknya dapat berpengaruh pada bumi kita. Utamanya, dalam hal pemanasan global yang trennya cenderung meningkat dari hari ke hari. Sederhananya, kita dapat memperlambat laju krisis iklim ini dengan mengubah perilaku serta kebiasaan yang kerap dilakukan.

Misalnya, apabila manusia sadar untuk peduli akan kelestarian hutan dan mengurangi penggunaan transportasi berbahan bakar seperti mobil atau motor. Maka, laju dari efek gas rumah kaca ini dapat ditekan seoptimal mungkin. Kendati, perubahannya pun tidak bisa kita rasakan secara langsung dalam waktu singkat.

hari bumi

Disamping itu, Yuyun juga menjelaskan sebuah hasil penelitian scientist di UK, Inggris yang membuat climate strikes untuk mempopulerkan kondisi bumi kita saat ini yang sedang tidak baik-baik saja, terutama perihal kenaikan suhu bumi. Menurutnya, jika dibandingkan jauh dari masa pra revolusi industri sekitar tahun 1900-an dengan kondisi saat ini, kondisi suhu bumi kita sekarang mengalami kenaikan hingga mencapai ambang batas, yakni 1,5 derajat celcius rata-rata suhu bumi. Dimana, pada tahun 2017 saja suhu bumi kita mengalami kenaikan sekitar 1,1 derajat celcius. Lantas, seperti apakah dampaknya untuk bumi dan alam kita? Cuss, lanjut!

Dampak Pemanasan Global Sekarang dan Jika Mencapai 1,5 derajat celcius Menurut IPCC

Saya pribadi percaya, bahwa perubahan iklim ini akan terus terjadi dari waktu ke waktu. Namun sayangnya, perubahan tercepat justru terjadi saat ini dan akibatnya muatan karbon dioksida gas rumah kaca telah mengisi seluruh lapisan atmosfir bumi. Mengingat, terjadinya peningkatan suhu bumi ini dapat mengancam eksistensi makhluk hidup, mulai dari ketiadaan air, tempat tinggal, bahan makanan, kesehatan manusia, hingga jaringan energi.

Hal ini dikemukakan oleh IPCC atau Intergovernmental Panel Climate Change, yang merupakan panel ilmiah antar ilmuan dari seluruh dunia dan didirikan oleh dua organisasi PBB, yaitu: United Nations Environment Programme (UNEP) dan World Meteorological Organization (WMO) pada 1988. Dalam panelnya, IPCC memaparkan bahwa jika emisi global terus meningkat dengan kecepatan sekarang, pemanasan global akibat ulah manusia akan melewati batas 1,5 derajat celcius pada sekitar tahun 2040.

Dimana, naiknya suhu hingga 1,5 derajat celcius ini dapat berdampak pada pemusnahan yang tidak dapat dihindari, utamanya pada pulau-pulau kecil. Serta, dapat memperkecil kesempatan bagi makhluk hidup yang ada disekitarnya untuk beradaptasi. Otomatis, dampak ini pun akan semakin buruk pada negara tropis dan subtropis di belahan bumi selatan.

Selain itu, kenaikan suhu 1,5 derajat celcius ini juga berdampak pada ekosistem laut yang akan mencapai titik kritisnya dan tidak dapat lagi dipulihkan. Termasuk hilangnya 70 – 90 persen terumbu karang, serta berakibat pada naiknya suhu laut dan keasaman laut yang berdampak langsung pada keselamatan, perkembangan dan pertumbuhan berbagai macam kehidupan biota laut. Tidak lupa, akibat kenaikan suhu ini juga akan berdampak pada pemusnahan ekosistem lainnya lho, termasuk keberlangsungan hidup manusia. Duh, ngeri banget ya?!

dampak perubahan iklim

Adanya Tren Bencana yang Didominasi oleh Bencana Hidrometeorologi

Dalam sepuluh tahun terakhir, pada rentang waktu tahun 2009 hingga 2019, diketahui 6 dari 10 bencana yang terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yang pemicunya dikaitkan langsung dengan perubahan iklim. Menariknya lagi, tren bencana ini terus meningkat, seiring dengan tingginya laju kerusakan hutan. Adapun, bencana hidrometeorologi ini mencakup bencana alam seperti banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, dan gelombang tinggi.

Bencana banjir bandang di Kalimantan Selatan dan adanya angin cyclone di NTT dan NTB, adalah dua dari jenis bencana hidrometeorologi yang terjadi baru-baru ini. Tak dapat dipungkiri juga, akan terjadi ancaman bencana hidrometeorologi berikutnya di sekitar kita. Mengingat, posisi geografis negara Indonesia yang sangat rentan terhadap perubahan iklim. Ditambah, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulaunya sekitar 17.000 lebih, dimana sebagian besarnya adalah pulau-pulau kecil yang sangat rentan dengan bencana hidrometeorologi. So, be aware ya guys!

Prinsip Energi Berkeadilan

Di sisi lain, permasalahan krisis iklim ini juga dipicu oleh beberapa faktor lainnya, yakni sektor energi dan sektor berbasis lahan yang mencakup lahan pertanian, kehutanan, kebakaran hutan dan lahan gambut. Dalam pemaparannya, Yuyun menyampaikan bahwa pada tahun 2010, sektor berbasis lahan menduduki urutan pertama sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbanyak. Tetapi, di tahun 2017 justru sektor energi yang peningkatannya semakin tinggi dan diprediksi dalam 10 tahun kedepan sektor energi akan melewati sektor-sektor lainnya sebagai kontributor emisi terbesar.

Maka, untuk mengendalikannya kita butuh kebijakan khusus yang dapat mengatur laju emisi yang dihasilkan oleh sektor berbasis lahan dan sektor energi ini. WALHI sebagai LSM lingkungan yang sangat concern dengan case ini pun menawarkan prinsip energi berkeadilan sebagai rumusan dalam mengatur kebijakan penggunaan energi dalam kehidupan sehari-hari.

Prinsip Energi Berkeadilan

  1. Menyediakan akses energi untuk semua sebagai hak dasar manusia
  2. Aman terhadap iklim dan berdasarkan pada teknologi yang tersedia di lokal dan berdampak rendah
  3. Di bawah kontrol langsung oleh publik dan diatur untuk kepentingan publik
  4. Memastikan hak-hak pekerja sektor energi
  5. Memastikan hak free, prior, and informed consent bagi masyarakat yang terkena dampak
  6. Berskala kecil dan terdesentralisasi
  7. Memastikan penggunaan energi yang adil dan seimbang serta meminimalkan limbah energi.

Dusun Silit Mandiri Energi, Upaya Pelestarian Alam Melalui Konservasi Berbasis Masyarakat

Dusun Silit Desa Nanga Pari, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat menjadi percontohan salah satu desa dengan upayanya dalam menjalankan konservasi berbasis masyarakat. Bukan hanya kemandirian energi lokal yang dicapai, namun kelestarian hutan dan kedaulatan pangan juga menjadi misi utama dari Dusun Silit ini dengan menjadikan hutan adat sebagai tempat mereka berpijak sekaligus menggantungkan hidup.

Dusun Silit

Diketahui, dusun yang memiliki luas wilayah sekitar 5.200 Ha dan diisi oleh 80 kepala keluarga ini tengah mengajukan pengakuan hutan adatnya yang bernama Siberuang ke Pemerintah Pusat. Upaya ini penting dilakukan dalam rangka menjaga kearifan lokal setempat beserta pengelolaannya. Dimana, masyarakat Dusun Silit ini dalam praktiknya menjaga kelestarian hutan dinilai sudah cukup baik, mulai dari inventaris dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara bijak.

Tidak hanya sampai disitu, peran sumbangsih, kolaborasi dan gotong royong masyarakat menjadi ciri khas dari konservasi berbasis masyarakat ini. Hutan terperlihara dengan baik, ketersediaan air bersih, sumber pangan, serta kemandirian energi pun dapat terwujud atas kerja sama dan sinergi dari berbagai pihak. Dimana, alam memberikan benefit bagi masyarakat untuk dapat bertahan hidup di sekitar hutan. Ahh, semoga kelestarian hutan ini dapat terus terjaga hingga anak cucu nanti, aamiin.

Sinergitas Antara Ekonomi Lestari dan Kelestarian Hutan, Mungkinkah?

Mau kita punya visi ekonomi apapun dengan tanah, air dan udara yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi kualitasnya, maka akan sulit untuk berhasil.

Gita Syarani, Kepala Sekretariat LTKL

Sebuah kalimat sarat makna, seketika menyadarkan saya siang itu tentang perayaan Hari Bumi yang jatuh pada bulan April ini. Menurut Gita, perayaan Hari Bumi ini bukan semata-mata untuk menyelamatkan bumi saja. Melainkan, juga tentang menyelamatkan kehidupan manusia. Apalagi, jika dikaitkan dengan perubahan iklim dan disfungsi ekologi kita saat ini sebagai dampak dari kerusakan hutan dan lingkungan.

Hari Bumi

Pasalnya, gelombang Covid 19 yang kita hadapi saat ini saja efeknya sudah berakibat fatal, hingga menelan banyak korban jiwa serta membuat sistem perekonomian melemah. Lalu, bagaimana dengan gelombang selanjutnya, yang bisa jadi akan lebih parah dan dapat mengancam keberlangsungan hidup manusia sebagai akibat dari adanya gelombang resesi, krisis iklim dan musnahnya keanekaragaman hayati.

Lantas, apa hubungannya ekonomi lestari dengan kondisi perubahan iklim saat ini? Gita mengkaitkan konteks ini dengan salah satu teori yang dicetuskan oleh Kate Raworth pada tahun 2012, yakni teori Ekonomi Donut atau Doughnut Economy. Dimana, dalam teori ini tidak hanya memprioritaskan aspek keuntungan semata, namun juga mempertimbangkan aspek lainnya seperti kelestarian lingkungan beserta elemennya dan eksistensi kehidupan manusia.

Hari Bumi

Poin ini sangat penting, karena dengan adanya kerangka ekonomi seperti ini, kita dapat mengetahui batas apa saja yang tidak boleh dilewati. Mengingat, jika sedikit saja kita melampaui garis terluar dari toleransi yang ditetapkan, maka ancamannya dapat membahayakan kelestarian hutan dan lingkungan. Otomatis, untuk mendukung gerakan ekonomi lestari ini, pemberdayaan produk lokal berbasis alam bisa kita upayakan dengan cara yang bijak.

Misal, dengan kita menciptakan produk ramah lingkungan dan ramah sosial, maka secara langsung kita ikut berkontribusi dalam menjaga fungsi alam tanpa bencana, meningkatkan kesejahteraan penduduk lokal, serta energi dan limbah dapat terjaga dengan tata kelola yang efisien. Sehingga, fungsi ekologi dapat terjaga, perlindungan hutan berlangsung secara lestari, dan masyarakat pun sejahtera.

Adapun, upaya lainnya yang dapat kita lakukan untuk menjadikan hutan sebagai jawaban dari masalah krisis iklim ini, ialah dengan ikut serta menyuarakan isu-isu kehutanan melalui kampanye ataupun program terkait untuk menyadarkan masyarakat. Mengingat, selama ini isu kehutanan seringkali menjadi hal yang kurang menarik untuk diangkat menjadi bahan obrolan di kala santai, khususnya bagi para anak muda. Hal inilah yang disampaikan oleh Kristian Natali selaku Manajer Program Hutan itu Indonesia (HII) pada sesi ketiga.

Oleh sebab itu, beberapa aksi nyata di bawah ini rasanya tepat untuk digencarkan bersama-sama sebagai aksi nyata kita dalam mewujudkan kepedulian terhadap hutan. Utamanya nih, dalam menyampaikan narasi yang positif tentang hutan dan sekitarnya. Apa saja? Ini dia, selengkapnya!

Hari Bumi

Gimana teman-teman, jadi pengen main ke hutan enggak nih? Yuk, tunjukkan kepedulian kita semua untuk kelestarian hutan dan iklim yang lebih baik. Karena, hutan itu lebih dari sekadar pohon. Jadi kalau hilang sulit tergantikan. Makanya perlu kita jaga dari sekarang.

Semoga rangkuman saya kali ini bermanfaat ya untuk teman-teman semua, SELAMAT HARI BUMI. SALAM WARAS!

Ludy

One thought on “Lestarikan Hutan Indonesia untuk Iklim yang Lebih Baik

Leave a Reply

Close
Social profiles