Merindukan Kuliner Khas Betawi di Rumah Nenek

kuliner khas Betawi

Hari lebaran dan rumah nenek, menjadi dua hal yang sangat saya rindukan. Bukan lagi semata-mata karena suasananya yang ramai. Namun, lebih pada kuliner khas Betawi racikan nenek yang sangat menggoyang lidah. Duh, bikin kangen deh! Cuss, langsung aja intip disini!

Sudah tujuh belas tahun lamanya, aroma manis legitnya dodol Betawi itu tak lagi kudapati di ujung dapur rumah nenek. Kala itu, seperti biasa, dua minggu sebelum lebaran tiba, saya dan adik-adik beserta beberapa sepupu pergi menginap ke rumah nenek. Agendanya pun tak jauh-jauh dari membantu nenek dalam menyiapkan segala perintilan di hari raya.

Aku yang tak sabaran untuk membantu nenek saat itu pun bersegera mengikuti langkah nenek kemanapun dia pergi. Mulai dari berbelanja segala kebutuhan di pagi hari, lalu meracik panganan satu per satu hingga menjelang sore. Kelihatannya sih memang merepotkan, namun di usianya yang terbilang senja, nenek masih tetap menikmati rutinitas itu dengan senang hati.

Sejak awal, tradisi seperti ini memang sangat kusukai. Mengingat, pada kesempatan itu nenek selalu meminta tolong padaku untuk mencicipi setiap olahannya, hihi. Adapun, sajian yang dibuatnya saat itu adalah berbagai kuliner khas Betawi tempo dulu yang bahkan hingga kini masih kuingat dengan jelas namanya. Mulai dari kue geplak, kembang goyang, biji ketapang, dodol Betawi, manisan kolang-kaling, wajik, kue jahe, asinan, dan masih banyak lagi.

Tak lupa, santapan khas Betawi lainnya yang disajikan tepat di hari raya, seperti sayur sambal godog, laksa, semur daging & jengkol, opor ayam, kentang balado ati, sambal, kerupuk udang, dan juga ketupat. Ahhh, jadi semakin rindu rasanya dengan cita rasa masakan nenek yang sejak tujuh belas tahun lalu telah berpulang ke rahmatullah. Fix, jadi pengen makan masakan nenek lagi kan, huhuu.

Menelusuri Jejak Kuliner Khas Betawi Tempo Dulu

Meski, telah lama menetap di Jakarta sejak lahir, tidak banyak pula hal yang saya ketahui, khususnya tentang sejarah kuliner khas Betawi ini. Kendati, keluarga mama sendiri bisa dibilang asli Betawi, namun tetap saja tidak bisa menjawab dengan pasti seperti apa tutur sejarah kuliner khas ini secara utuh. Selalu saja jawabnya, “udeh dari sananye begitu, dulu uyut ajarinnye begitu.”

Shortly, regenerasi keluarga yang turun temurun.

Kuliner Betawi
Credit by Aksara Pangan

Terkait dengan topik ini, bersyukur sekali saya hari ini bisa mengikuti Webinar Kelir Betawi yang diselenggarakan oleh Aksara Pangan yang bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, dan Lembaga Kebudayaan Betawi. Melalui webinar ini pula, saya jadi sedikit tahu, seperti apa perjalanan sejarah kuliner khas Betawi ini hadir di tanah air.

Hal ini dijelaskan langsung oleh Yahya Andi Saputra, atau biasa disapa Bang Yahya dari Lembaga Kebudayaan Betawi. Dalam penuturannya, beliau memaparkan bahwa untuk sejarah kuliner Betawi ini beberapa diantaranya ada yang tertulis dan ada juga yang tidak tertulis. Namun, dari penuturan beliau ini saya bisa sedikit memahami, bahwa kuliner khas Betawi ini lahir dari proses asimilasi yang dipicu oleh adanya interaksi antar bangsa maupun etnik yang berlangsung secara ketat dan terus-menerus kala itu.

Sebut saja, bangsa Portugis, Belanda, China, Arab, Inggris, Prancis, serta India, yang diketahui sejak abad ke 15 sudah singgah di Jakarta. Utamanya, di kawasan Pelabuhan Kelapa yang dikenal secara luas sebagai kawasan dagang internasional yang strategis pada jaman itu. Ditambah lagi, perpaduan cita rasa kuliner Betawi ini juga didukung oleh munculnya berbagai etnik nusantara di tanah air.

Jadi, pantas rasanya jika hingga kini, kita bisa dengan mudah menemukan sekaligus menikmati berbagai sajian kuliner Betawi yang khas dan unik. Mulai dari, segarnya bir pletok, manisnya es selendang mayang, empuknya roti gambang yang khas, dan masih banyak lagi sajian lainnya sebagai hasil dari proses asimilasi yang lahir dari adanya interaksi ini.

Merayakan Hari Lebaran dengan Tradisi Andilan

Tradisi andilan
Credit by kompas.com

Diketahui, secara geografis masyarakat Betawi ini sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu Betawi Tengah dan Pinggiran. Dimana, untuk masyarakat Betawi Tengah ini wilayahnya meliputi daerah Jakarta Pusat atau radius kurang lebih 7 km dari Monas, tidak termasuk Tanjung Priok. Sedangkan, pada masyarakat Betawi Pinggiran atau disebut juga dengan Betawi Ora, pembagian wilayahnya dikelompokkan lagi menjadi dua bagian, yakni utara dan selatan.

Bagian utara meliputi Jakarta Utara, Barat dan Tangerang, umumnya dipengaruhi oleh kebudayaan Cina. Lalu, pada bagian selatan meliputi, Jakarta Timur, Selatan, Bekasi, dan Bogor, dimana pada bagian ini dikenal sangat kental dengan kebudayaan Jawa dan Sunda. Dan, keluarga nenek dari ibu saya ini termasuk dalam masyarakat Betawi Pinggiran, karena rumah nenek letaknya berada di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Dari adanya pembagian wilayah ini, diketahui pula terdapat beberapa perbedaan yang tampak, mulai dari dialek bahasa, seni budaya, profesi masyarakat setempat, termasuk didalamnya tradisi yang berlaku. Misal, adanya tradisi andilan yang kerap dilakukan oleh masyarakat Betawi Pinggiran jelang Idul Fitri.

Saya pribadi, merasa tidak asing lagi dengan adanya tradisi ini. Lantaran, terkenang dengan kebiasaan nenek yang sejak tiga bulan sebelum Ramadan tiba, sudah mulai menyisihkan uang untuk andilan daging ini bersama keluarga besarnya. Hal ini pun senada dengan pemaparan Bang Yahya, tentang tujuan utama dari adanya tradisi andilan ini sendiri, yakni memberi kemudahan pada keluarga lainnya untuk mendapatkan daging segar dalam memeriahkan hari raya lebaran.

Hal menarik dari tradisi ini ialah, peserta yang ikut urung rembuk membeli kerbau tidak hanya terbatas pada anggota keluarga saja. Namun, para tetangga di wilayah sekitar tempat tinggal pun juga bisa ikut. Dimana, jumlah pesertanya bisa mencapai 15 hingga 20 orang untuk satu ekor kerbau. Tetapi, jika jumlah peserta yang ikut sekitar 80 orang, maka jumlah kerbau yang harus dibeli sebanyak empat ekor.

Adapun, tiap peserta yang ikut dalam tradisi andilan ini akan mendapatkan satu tanding, tapi bisa juga mendapat dua tanding jika dia mendaftar dua. Nah, tanding ini sendiri berarti ukuran pembagian daging yang dibagikan, yang mana tidak hanya memperolah bagian dagingnya saja lho. Tapi juga, seluruh bagian kerbau lainnya, seperti isi perut, tulang belulang, dan kulit. Wahhh, kalau ingat kayak gini jadi berasa flashback lebaran di rumah nenek deh!

Ini Dia, Kuliner Khas Betawi yang Tak Banyak Dikenal

sayur besan betawi
Sayur Besan Betawi (Credit by tirto.id)

Sebagai orang Betawi yang sepertinya enggak tulen-tulen banget, lantaran lahir dari pasutri Palembang – Betawi, membuat wawasan saya terkait kuliner khas Betawi ini jadi cukup terbatas. Nyatanya, diluar sana masih ada banyak lagi lho kuliner Betawi lainnya yang unik dan khas, serta layak untuk dicoba. Kendati, dalam ingatan saya mungkin sewaktu kecil pernah mencoba menyantap makanan itu di suatu tempat saat berkunjung ke saudara nenek lainnya saat silaturahmi. Namun, ingatan tentang cita rasa lokal itu dengan mudahnya menguap seiring bertambahnya usia.

Bersyukurnya lagi, melalui webinar ini pula, wawasan saya jadi lebih terbuka perihal kuliner khas Betawi lainnya yang terkesan tidak populer. Padahal, jika dibandingkan dengan yang populer dari segi rasa, kayaknya sih sama-sama enak kok. Malah, bisa jadi mungkin lebih enak. Dan, ini dia beberapa kuliner khas Betawi lainnya yang ingin saya beritahukan, seperti yang telah disampaikan oleh Ibu Maharani Kemal dan Cucu Sulaicha selaku Dewan Pakar Persatuan Wanita Betawi.

Well, ada apa aja nih? Cuss, check this out!

Setup Tape Betawi

Bagi masyarakat Betawi, sajian menjadi salah satu hidangan camilan yang dihidangkan saat berbuka puasa. Rasanya yang manis bercampur gurihnya santan, membuat Setup Tape Betawi ini layak dijadikan takjil favorit saat berbuka puasa. Tidak hanya disajikan sebagai hidangan pembuka, menurut Ibu Maharani, Setup Tape Betawi ini bisa dinikmati sebagai mindo atau biasa disebut makan sesudah makan. Mungkin, lebih tepatnya ngemil kali ya, hehe.

Berasal dari bahasa Belanda, stoof dan Inggris, stew. Hidangan setup ini dibuat dengan cara memasak menggunakan cairan. Bisa berupa air biasa atau juga santan kelapa. Bahan-bahannya pun mudah didapat lho, antara lain tape sebagai bahan utama, santan kelapa, daun pandan, daun jeruk, kayu manis, jahe, cengkeh, gula pasir, dan garam. Penasaran dengan rasa setup tape ini? Yuk, langsung aja bikin sendiri, hihi.

Bubur Jali Betawi

Mirip seperti kacang hijau, namun jenis biji yang digunakan bukanlah biji kacang hijau lho. Melainkan, biji jali yang merupakan jenis biji-bijian seperti gandum. Terlebih, biji jali ini mengandung banyak nutrisi yang bagus untuk kesehatan tubuh kita. Jika biasanya, saat menyantap bubur kacang hijau atau jali, santannya langsung dicampur sebagai bagian dari kuah. Namun, pada Bubur Jali Betawi ini tidak seperti itu. Cara penyajiannya, bubur jali dan santannya dihidangkan secara terpisah. Sehingga, siapapun yang ingin menyantap bubur jali ini bisa menikmatinya sesuai selera masing-masing.

Bubur Ase

Bubur ase, salah satu kuliner legendaris yang menjadi favorit masyarakat asli Betawi hingga saat ini. Keunikkannya, bubur ini berbeda dengan bubur yang lain, karena dicampur kuah ase berupa kuah semur yang encer. Rasanya pun asam seperti sayur asam, dengan tambahan toping asinan berupa caisin, mentimun dan toge. Tak lupa, kacang kedelai, kerupuk merah, sambel, serta bawang goreng yang membuat bubur ase ini jadi makin terasa nikmat saat disantap. Proses pembuatan kuah ase ini sama seperti semur hanya saja penggunaan biji pala dan kayu manis tidak terlalu banyak.

Dari segi komposisi, bubur ase ini tergolong varian bubur yang cukup sehat dan bergizi. Karena, terdapat sumber karbohidrat yang berasal dari bubur (nasi), protein dari kacang kedelai dan potongan daging. Serta, kandungan vitamin dan serat yang berasal dari asinan sayuran. Ditambah, perpaduan rasa bubur ase yang enak dan unik ini, seringkali dianggap banyak orang bahwa ase adalah singkatan dari asinan dan semur. Kira-kira, benar juga sih kalau disebut demikian, hihi. Duh, jadi pengen cobain lagi deh!

Sayur Besan

Sayur besan menjadi salah satu hidangan andalan masyarakat Betawi yang sering disajikan saat pesta pernikahan berlangsung. Bagi masyarakat Betawi, hidangan ini merupakan hidangan istimewa yang tidak hanya disajikan saat pesta pernikahan saja, namun juga pada momen-momen istimewa lainnya, seperti hari raya Idul Fitri.

Persis seperti sayur lode, tapi yang membuatnya berbeda adalah penggunaan terubuk sebagai bahan utamanya yang kini semakin jarang ditemukan. Tidak hanya itu, terdapat bahan-bahan lainnya sebagai campuran, seperti: jagung muda, soun/bihun, labu siam, wortel, kembang kol, kentan, santan kelapa, daun salam, pepaya peret, daun bawang, serta sejumlah bumbu-bumbu rempah yang makin membuat sayur besan ini jadi terasa lebih sedap.

Sayur besan ini biasa disajikan dengan telur dadar gulung, oseng daun pepaya campur ikan teri, ikan mujaer goreng, terubuk telor, sambal goreng udang, serta sambal lalap. Gimana nih, kayaknya enak banget ya?!

Sayur Sambal Godog

Wah, favorit saya banget nih dan bahkan selalu saya nantikan ketika hari lebaran tiba. Jelas ya, sayur sambal godog ini jauh berbeda dengan jenis sayur bersantan yang sering disajikan dengan ketupat pada umumnya. Mengingat, bahan utama yang digunakan umumnya adalah potongan labu siam beserta tempe dan tahu sebagai tambahannya.

Sedangkan, pada sayur sambal godog ini bahan-bahannya berupa kacang panjang, pete, daging tetelan, irisan tempe, dan pepaya peret. Rasanya pun jadi semakin gurih, karena ditambahkan terasi dan ebi dalam sayur sambal godog ini. Warnanya pun merah merona yang berasal dari campuran cabe merah besar, bawang putih, bawang merah, tomat, kunyit, serta kemiri yang telah dihaluskan.

Nah, agar saat menyantapnya jadi semakin nikmat, bisa juga ditambahkan dengan menu pendamping wajib lainnya, seperti: Semur Betawi, Ayam Goreng, Sambal Goreng Ati Kentang, dan Bubuk Kelapa Gonseng. Dijamin deh, enggak cukup sekali lho memakannya alias bikin ketagihan dan mau nambah terus, haha. Duh, jadi pengen cepet-cepet lebaran kan jadinya!

Gimana nih teman-teman, menurut kalian kuliner khas Betawi apa nih yang jadi pilihan kamu? Atau, jangan-jangan kamu punya rekomendasi kuliner Betawi lainnya yang layak untuk dicoba? Wah, mau dong, hihi! Ditunggu sharing-nya ya teman-teman.

Semoga rangkuman saya kali ini bermanfaat untuk teman-teman semua yang sedang membutuhkan refrensi pilihan kuliner khas Betawi lainnya ya. Have a good day, SALAM WARAS!

Ludy

One thought on “Merindukan Kuliner Khas Betawi di Rumah Nenek

Leave a Reply

Close
Social profiles