Jadi Freelancer, Emangnya Enak?

Yup, menjadi freelancer adalah keputusan mutlak yang akhirnya saya putuskan saat itu. Bukan karena saya sok iye, alih-alih latah dengan trend profesi masyarakat urban saat ini, sekali lagi bukan lho ya! Alasan utamanya, karena saya merasa passion yang saya minati cenderung mengarah pada profesi freelancer, seperti kemampuan menulis salah satunya.

Pasca resign adalah masa-masa tersulit yang pernah saya lalui dalam kehidupan rumah tangga. Bisa dibilang mau kayak gimana pun, rasanya tuh BAPER AKUT saat itu. Iya, gimana enggak baper cobaaak? Sempat merasa riskan dan julid dengan sejumlah teman yang meski sudah memiliki anak, namun bisa tetap eksis mengokohkan dirinya di atas karir yang cemerlang.

Tanpa perlu lagi merasa khawatir dengan stok cuan yang tiba-tiba menipis atau bahkan enggak perlu berhemat-hemat untuk sekadar ‘jajan’ skincare. Yes, nyatanya saat itu memang saya begitu julid bin baper dengan kondisi diri yang merasa enggak bisa bermanfaat dalam menghasilkan cuan.

Namun makin kesini, saya makin maklum dan sadar dengan kapasitas diri. Belajar untuk dapat menerima keadaan, bahwa sejatinya hidup bukan hanya tentang menghasilkan CUAN. Namun, ada nilai yang lebih penting tentang esensi rezeki itu sendiri, yakni apa yang saya lakukan sudah semestinya bisa memberi manfaat seluas-luasnya. Jadi, bukan hanya sekadar mengerjakan tugas, tanggung jawab selesai dan berakhir dengan payment. It’s too flat, dan pastinya hidup kamu ya kurleb bakal gitu-gitu aja alias kurang greget. Walau sadar, sejatinya ada TAKDIR yang melatarbelakangi garis kehidupan ini (tsah!).

Terlepas dari itu semua, saya pribadi punya keyakinan yang amat kuat tentang rezeki. Yakni, menyadarinya bahwa rezeki itu enggak selamanya mesti kita cari di luar rumah dengan alur office hours 9to5-nya yang cukup menyiksa. Oleh sebab itu, saya pun terus memutar otak. Berpikir keras untuk dapat memberdayakan diri dan berpenghasilan dari rumah. Apalagi, saya mesti tahu diri dengan kondisi saat ini sebagai ibu beranak satu. Beuhh, kebayang kan gimana riweuhnya emak-emak newbie kalau lagi rempong ngurus rumah? Kesenggol dikit, kondisi rumah langsung berubah kayak neraka, wkwkwkk. Jadi, kudu piye aku tuh?

Saatnya Memilih untuk Jadi Freelancer

Pictured by pexels.com

Yup, menjadi freelancer adalah keputusan mutlak yang akhirnya saya putuskan saat itu. Bukan karena saya sok iye, alih-alih latah dengan trend profesi masyarakat urban saat ini, sekali lagi bukan lho ya! Alasan utamanya, karena saya merasa passion yang saya minati cenderung mengarah pada profesi freelancer, seperti kemampuan menulis salah satunya. Baik itu, as a content writer, copy writer or blogger misalnya. Di satu sisi, rupanya banyak juga lho perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan freelancer sebagai tenaga tambahan. Mengingat, hal ini juga cukup menguntungkan pihak perusahaan dalam menekan cash flow mereka pastinya, hehe.

By the way, merintis jalan sebagai freelancer itu nyatanya cukup sulit lho dan punya tantangannya tersendiri. Apalagi, kalau secara branding dan experience kamu masih terbilang unyu-unyu banget. Yaaa, intinya sih untuk awalan mesti legowo kalau dibayar murah (pake banget) sama klien, hehe. Misalnya, kayak saya sendiri deh. Pertama kali ambil job freelance itu sebagai penulis artikel untuk sebuah website. Meski, punya pengalaman di bidang jurnalistik selama 1 tahun (ya, masih terbilang newbie juga), tetap aja karena dinilai masih ‘anak baru’ di dunia freelance, maka bayarannya pun dihargai dengan nominal yang amat rendah.

Iya, rendah banget lah pokoknya. Saking dibayar rendah saat itu, yakni Rp1.000/100 kata. Suami sempat bilang, “Udah gak usah lanjutin, mending aku aja yang gaji kamu. Wong, bayarannya cuma cukup buat jajan permen, hehe”. Tapi, entah mengapa saat itu saya tetap keukeuh untuk lanjut meski dengan bayaran yang tak seberapa. Pikir saya kala itu, anggap aja belajar lagi sama guru yang berbeda dan gratis pula. Intinya sih, saya percaya bahwa PROSES TIDAK AKAN MENGKHIANATI HASIL. Dan, setelah itu, tepatnya beberapa bulan kemudian, siapa yang menyangka bahwa rate card saya untuk sekali menulis bisa mencapai 200ribuan bahkan hingga juta-an/bulan. Please, bukan bermaksud sshhoombong lho ya! Intinya, saya yakin banget bahwa Allah Maha Adil kok, karena barang siapa yang menanam (dalam hal apapun itu) pasti ada hasilnya.

Menjadi IRT BAHAGIA Dengan Extra Income

Pictured by pexels.com

Sekali lagi, bukan maksud Hayati untuk menetapkan standar utama IRT Bahagia pada hal materiil. BIG NO yaa! Karena, banyak hal lho yang sejatinya dapat membuat para stay at home mom (SAHM) ini bahagia, meski amat retjeh. Ingeeet, BAHAGIA ITU AMAT SEDERHANA. Jadi, jangan bebani diri untuk menciptakan bahagia versi kita ya gaes.

Dari tulisan ini, saya hanya ingin memotivasi teman-teman sekalian yang memiliki minat untuk menjadi seorang freelancer. Just it! Tanpa harus tergiur di awal perihal cuan yang nantinya akan didapatkan. Kasarnya sih, “Kalau elo mau dapat duit banyak ya usaha dulu lah, nikmatin prosesnya. Jangan pikir cari duit itu minim usaha kayak elo keluarin upil dari hidung”. Nah lho!

Well, berikut ini ada tips tipis-tipis yang ingin saya bagikan untuk teman-teman semua yang berminat menjadi seorang freelancer (apapun itu). Ini dia selengkapnya, check this out…

Kenali Passion dan Potensimu. Sebelum memulai, ada baiknya kenali dulu konsep diri kamu yang sebenarnya. Dalam hal ini mencakup kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki. Sehingga, akhirnya mengerucut pada passion dan potensi alami yang kamu miliki. Ingeet, mendalami suatu hal yang sesuai dengan passion dan potensimu itu seru banget lho! Bahkan, akan terus berkembang jika selalu diasah setiap waktu. Jadi, camkan baik-baik ya!

Mulai dari 0 dan Selalu ‘Kosongkan Gelas’. Dua hal inilah yang menjadi landasan saya saat serius mendalami apa yang menjadi minat saya. Karena, kalau dengan orang saja kita bisa sombong, bagaimana kita bisa menerima ilmu? Intinya, selalu kosongkan gelas dan mulai segalanya dari 0. Dalam artian, jangan bersifat jumawa dengan materi yang pernah diterima dan selalu menganggap diri kita sebagai pembelajar yang tak pernah lelah memburu ilmu pada siapapun dan kapanpun.

Manajemen Waktu. Sebagai ibu beranak satu yang juga menyambikan diri sebagai freelancer, mesti cermat nih dalam memanage waktu. Karena, jangan sampai semua tugas kita jadi berantakan dan enggak beres, cuma karena manajemen waktunya yang buruk. Please, tetapkan prioritas dan sesuaikan dengan kemampuan tubuh kamu. Jangan sampai memaksakan diri, kalau ujung-ujungnya jadi stress dan jatuh sakit. Jika sudah begitu, baru deh atur waktu kamu dengan baik dan se-adil mungkin.

Family Comes First. Yup, betul banget. Meski sibuk, selalu utamakan keluarga di atas segalanya. Be a good people ya Mak!

Kudu Profesional. Ini yang paling penting, tunjukkan diri kita sebagai freelancer yang profesional. Caranya pun cukup mudah, namun agak berat untuk dikerjakan, yakni selalu berusaha menyelesaikan tugas sebelum deadline. Minimal, pas ditanya klien perihal tugas udah beres dikerjakan lah yaa, hehe. Maafkeun, saya pun juga masih belajar tentang hal yang satu ini.

Ciptakan Circle Positive. Nah, ini nih yang paling asyik. Punya circle sesama freelancer yang enggak pelit ilmu sama bagi-bagi job (ehh…). Karena, disamping menguntungkan, juga membuat diri kita makin berkembang dan termotivasi dengan lingkungan pertemanan yang positif. Pastikan, enggak ada tuh yang namanya tikung-menikung dan kondisikan satu sama lain untuk saling support yaa.

Buibuuukk, gimana nih tips tipis-tipisnya? Bisa lah ya buat dicoba sesuai dengan versi kamu. Apapun itu, do the best dan selalu enjoy saat melakukannya, okay! Semoga bermanfaat. SALAM WARAS!

Ludy

Sharing is caring!

14 thoughts on “Jadi Freelancer, Emangnya Enak?

  1. Jadi freelancer buat aku lebih enak dari pada bekerja kantoran yg 9-6 rutin.. Jd freelancer gk ada kejenuhan bebas dgn waktu kemacetan dan itu enak bgt

    1. SETUJU BANGET, kak! Cuma yg jadi PRnya itu lho mager kalau akuuuu. Mesti punya motivasi kuat setiap saat. Apalagi kalau lagi pengen leyeh-leyeh abis beberes sama ngurus anak di rumah wkwkwk (curhat)

    1. Wkwkkw, iya mba seriuss aku. Dulu pernah dibayar segitu saking murahnya dan emang pengen belajar. Tapi ya by process, insya Allah dikasih yang lebih baik lagi mba alhamdulillah hihii

  2. Selalu suka sama tulisannya mamak satu anak ini deh. Berarti saat proses stay at home, semuanya menjadi tak mudah yak! Ak ga sendiri euy! Kuy kapan kita ngobrol bareeeng lagih

    1. Ahhh, Grandys, kamu mah blogger heitttss. Justru aku yg mesti belajar banyak sama kamu hihii. Kuy ahh, kapan-kapan mesti ngobrol bareng hahaha

    1. Nah iya mba, pastinya. Salah satu tantangan terberat yang pasti dirasain oleh siapapun, termasuk aku. Hayoo mba, bismillah pasti bisa hehe

  3. Tips nya jitu banget mba.. Makasih udh sharing disini…tp msh blom pede rasanya ya walopun ada kwtertarikan… Apalgi blog sy gado” dan cenderung cerita sehari” alias curhatan ga penting wkk wkaa wakka 😆

    1. Ihh, aku abis intip blog mbaknya keren lhooo! gak masalah mba gado-gado yang penting gimana caranya kita bisa konsisten nulis hihi (aseekk). Semangaat mbaa, terima kasih ya sudah mampir hihi

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares