Review Buku: Terusir By Hamka

Sekali lagi, sejuknya rintik-rintik hujan di bawah udara bulan November kala itu, menjadi permulaan dimulainya perjalanan Mariah dalam menjalani takdir sekaligus sisa hidupnya yang teramat pilu. Lantas, akankah Mariah tetap bersikap lurus atau malah melawan arus agar tetap bisa bertahan hidup? Kendati, baik Mariah ataupun Azhar, keduanya pun kelak akan sama-sama menelan pahit dan nelangsa, lantaran makan hati berulam jantung. Miris.

Aku ingat kembali malam itu, hujan rintik-rintik yang turun di atas rumah, di bawah udara bulan November yang amat sejuk, aku berjalan seorang diri tak tentu arah. Di hadapan rumahmu aku terdengar tangisan anakku memanggil-manggil ibunya. Aku pada mulanya hendak kembali sekurang-kurangnya untuk menciumnya dalam tidur, tetapi engkau usirku sekali lagi, engkau maki aku dengan perkataan-perkataan yang berat-berat.

Penggalan Surat Mariah untuk Azhar, Suaminya yang Tercinta

Sungguh, hati mana yang tak kan hancur manakala dihadapkan oleh takdir sekaligus kenyataan pahit yang amat memilukan hati. Mariah dengan segala kesabaran dan pengharapannya yang nyaris pupus hingga akhir hidupnya, diuji dengan kejamnya fitnah yang muncul dari mertuanya sendiri. Entah, karma apa yang membuat Mariah harus bernasib demikian buruknya.

Tumbuh dan besar tanpa sosok ibu sedari kecil, serta punya paras yang jelita. Hal inilah yang menjadi kecacatan bagi Mariah dihadapan sang mertua dan jelas-jelas membuat Azhar sang anak bertekuk lutut pada Mariah dengan perangai kewanitaannya yang lembut nan halus. Ditambah lagi, sosoknya bukan lahir dari kalangan bangsawan apalagi berkedudukan. Maka, makin bertambah hinalah Mariah dalam pandangan mertua dan keluarga Azhar, suaminya. Ohhh, sungguh benar adanya bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tanpa waktu lama, fitnah yang dialamatkan sang ibu nyatanya mampu meyakinkan Azhar tanpa perlu berpikir panjang untuk bersegera mengusir Mariah dari rumahnya.

Pedih sekaligus mengiris hati, tatkala melihat belahan jiwa yang tengah terlelap dalam buaian tidurnya, terpaksa harus Mariah tinggalkan malam itu juga. Dialah, Sofyan, anak laki-laki kesayangannya yang bahkan belum genap berusia 5 tahun. Di usia itu, Sofyan kecil belumlah paham atas situasi buruk yang tengah menimpa ibunya. Yang ada, dia hanya bisa terus bertanya dan mempertanyakan lagi kemanakah sang ibu berada. Hingga pada akhirnya, lekat di ingatan Sofyan hingga dewasa bahwa ibunya telah pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Sekali lagi, sejuknya rintik-rintik hujan di bawah udara bulan November kala itu, menjadi permulaan dimulainya perjalanan Mariah dalam menjalani takdir sekaligus sisa hidupnya yang teramat pilu. Lantas, akankah Mariah tetap bersikap lurus atau malah melawan arus agar tetap bisa bertahan hidup? Kendati, baik Mariah ataupun Azhar, keduanya pun kelak akan sama-sama menelan pahit dan nelangsa, lantaran makan hati berulam jantung. Miris.

Baca Juga:

Surat-Surat Itu…

Berpucuk-pucuk suratku kukirimkan meminta maaf dan ampun, meminta agar engkau menerimaku kembali dalam rumahmu, untuk mengasuh anak kita; atau engkau izinkan ia kubawa ke mana kupergi dan kurelakan pula jika engkau ingin beristri yang lain, tetapi haram suratku engkau balas, bahkan ada yang engkau kirimkan kembali padaku.

Penggalan Surat Mariah untuk Azhar

Demikianlah penggalan surat yang dituliskan Mariah untuk Azhar, sang suami yang ia cintai. Meski pada kenyataannya, surat itu adalah surat yang pertama Azhar terima dan terakhir pula dia baca. Lantaran, surat-surat sebelumnya bukanlah diterima oleh Azhar secara langsung. Melainkan, diterima secara diam-diam oleh ibu dan adiknya sendiri, yang beberapa diantaranya dikirimkan kembali pada Mariah.

Dokumen pribadi

Bersamaan dengan hadirnya surat itu, datanglah sahabat karib Azhar, Haji Abdul Halim yang rupanya juga mengenal Mariah cukup baik. Tragisnya, melalui surat itu Azhar seolah mendapat tamparan buruk yang sekaligus menyadarkan nuraninya akan kebenaran yang diungkapkan oleh sang istri pada malam itu. Azhar bersungut menyesali kebodohannya yang tidak bijak dalam menanggapi perkara istrinya itu. Di satu sisi, Azhar sudah terlanjur termakan fitnah sang ibu tanpa melihat kebenarannya dulu. Dan, yang kedua adanya ancaman putusnya pertalian keluarga apabila Azhar memanggil Mariah kembali pulang ke rumah. Maka, dilemalah dia dan terombang-ambing pula dalam perasaanya yang pilu.

Sembari mengatakan nasi sudah jadi bubur. Namun, pernyataanya itu segera ditepis oleh sahabat karibnya, Haji Abdul Halim.

“Tidak, nasi belum jadi bubur, asal engkau insaf dan sudi memanggil istrimu kembali!” (Terusir, hal. 15)

Maka, sejak itulah, pencarian akan keberadaan Mariah pun dimulai. Seluruh harta yang Azhar miliki ia kerahkan untuk mencari Mariah. Hingga pada akhirnya, takdir pulalah yang kelak akan mempertemukan mereka berdua dalam keadaan membisu, tanpa kata-kata.

Kejinya Fitnah yang Berakhir Nestapa

Kepelikan hidup seolah telah menjadi sahabat karib bagi Mariah sejak diusirnya ia dari rumah. Bilamana teringat malam tragis itu, Mariah pun tiba-tiba merasakan sesak sekaligus perih yang menyayat hatinya.

Bermula dari kejadian petaka malam itu, dimana Azhar sedang tidak ada di rumah dan tiba-tiba dari pintu belakang Hamzah, sepupu Azhar masuk diam-diam menuju sebuah kamar dimana Sofyan kecil tengah terlelap tidur. Sontak, saat Mariah masuk ke kamar dia pun kaget mendapati Hamzah tengah duduk di atas bibir ranjang miliknya. Tanpa disangka, saat itu juga, Azhar beserta ibunya dan Basir, adiknya Azhar tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa aba-aba.

Seolah telah direncanakan, skenario itupun berjalan begitu apik nan mulus. Hingga kemudian menjadikan Azhar geram dan langsung mengusir Mariah tanpa memeriksa terlebih dahulu duduk perkaranya. Alhasil, dengan berat hati Mariah pun terpaksa pergi tanpa membawa bekal apapun dan hanya tersisa sehelai baju yang jelas nyata melekat di tubuhnya.

Tanpa saudara kandung yang tersisa, Mariah pun sempat singgah beberapa hari di rumah salah seorang sahabat ayahnya semasa hidup yang dia sebut Pakcik. Namun, lagi-lagi pengusiran Mariah alami, lantaran fitnah yang sengaja dibuat oleh istri Pakciknya itu dan ditujukan untuknya. Meski demikian, Mariah pun ikhlas menerima jalan hidupnya ini.

Setelah dirinya diusir, Mariah pun berusaha mencari pekerjaan untuk menjadi orang gajian di berbagai tempat. Hingga pada akhirnya, Mariah pun menjadi Babu (pembantu rumah tangga) di kediaman keluarga Van Oost dan ikut pula pindah ke Jakarta bersama keluarga Belanda itu. Namun sayang, pekerjaan Mariah hanya bisa berjalan hingga 5 tahun. Hal ini lantaran keluarga Tuan Van Oost harus kembali ke Eropa tanpa membawa Mariah serta pembantu lainnya.

Tak ingin kembali nelangsa, Mariah pun akhirnya menerima pinangan Yasin, yang merupakan rekan kerjanya selama bekerja di rumah Van Oost. Namun, naas. Yasin justru tidak bersikap baik seperti yang Mariah kenal dulu. Setelah keduanya menikah, Yasin acapkali main perempuan, judi sambil menenggak minum-minuman keras. Bahkan, harta benda Mariah yang dia kumpulkan selama menjadi babu pun ludes seketika, karena diambil oleh Yasin dengan alasan untuk mencari pekerjaan. Tetapi, hal itu hanyalah alasan Yasin belaka untuk bisa menghabiskan seluruh harta milik istrinya, Mariah. Miris, Yasin seakan hilang akal dan tak bisa dijadikan sebagai tempat bergantung untuk dapat hidup bersama.

Tak sampai setahun, keduanya pun berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing. Sulitnya bertahan hidup di kota besar, mau tak mau, demi sesuap nasi membuat Mariah terpaksa menjajakan diri sebagai seorang pelacur di bilangan kota Jakarta. Dan, namanya pun kini telah berganti menjadi “Neng Sitti”.

Tentang Darah & Tulusnya Kasih Ibu

Seiring berjalannya waktu, lambat laun kecantikan Mariah pun mulai memudar. Sebagai pelacur, kedudukannya pun kini berada di kelas III, dan telah terganti oleh paras junior-juniornya yang terlihat lebih muda. Makin menua, dia tidak ingin terlalu ambil pusing atas jalan hidupnya. Baginya, minuman keras telah menjadi obat sekaligus candu manakala ia merasa perih akibat menahan rindu pada putra semata wayangnya, Sofyan.

Hingga suatu hari, dia pun bertemu Wirja tanpa disengaja, setelah diam-diam menyimak pertikaian Wirja dengan rekan juniornya di dalam sebuah bilik. Dengan terang-terangan Wirja mengaku bahwa dirinya amat membenci Sofyan yang kini telah menjadi pengacara mahsyur di ibukota dan alasan utamanya lantaran Sofyan telah merebut Emi dari genggaman Wirja. Padahal, sesungguhnya Emi sendirilah yang telah menolak ajakan Wirja saat laki-laki itu mendekati dirinya.

Dendam Wirja pun makin meluap-luap, dia pun makin berani merencanakan perbuatan buruk untuk bisa mencelakai Sofyan. Mengetahui hal itu, Mariah pun tak terima dan mencoba membujuk Wirja agak tak melakukan hal keji tersebut pada Sofyan. Tanpa sadar, Mariah pun mengaku bahwa dirinya tak lain adalah ibu kandung dari Sofyan yang dahulu terpaksa pergi meninggalkan Sofyan kecil lantaran diusir sang ayah. Lantas, Wirja pun makin menjadi-jadi, niatnya untuk menjatuhkan Sofyan pun makin membuncah.

Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, demi menjaga nama baik dan ‘kebersihan’ Sofyan, sang anak terkasih, Mariah pun akhirnya menusuk Wirja dengan sebuah pisau belati yang dia simpan di balik ikat pinggangnya. Suasana rumah pelacuran pun tiba-tiba ramai dan memenuhi bilik tersebut. Tak lama, Mariah pun dibawa ke kantor polisi dan segera itu pula ia dipenjarakan.

Tak lama berselang, keajaiban itu pun akhirnya datang.

Melalui kejadian ini, pengadilan meminta Sofyan untuk menjadi pembela bagi Mariah atas kasus yang menimpanya. Awalnya Sofyan ragu lantaran stigma negatif terhadap wanita pelacur yang baginya dinilai buruk bagi masyarakat. Terlebih, kelompok ini sendiri merupakan sampah masyarakat yang keberadaannya kala itu harus diringkus dan dibersihkan. Ditambah lagi, hingga saat itu Sofyan belum juga menyadari bahwa Mariah adalah sosok ibu kandung yang selama ini dia rindukan.

Lantas, apakah Sofyan akan bersedia membela Mariah? Dan, seperti apakah pertemuan ibu dan anak ini? Penasaran? Langsung aja yuk, dibaca bukunya, hihi.

Sekilas Tentang Buku Terusir Oleh Hamka

Dokumen pribadi

Berlatar kisah tentang adat Minang di tahun 1930-an yang dibumbui dengan latar tempat Medan, Sumatra Utara hingga Ibukota Jakarta, nyaris membuat saya jatuh hati dengan alur ceritanya yang klimaks, dramatis, sekaligus menyayat hati. Sebagai perempuan sekaligus seorang ibu, pengorbanan dan cinta kasih yang tulus tentu menjadi hal mutlak dan pasti akan dilakukan demi orang-orang terkasih. Namun, dibalik itu akan menjadi kisah tragis lantaran fitnah yang mematikan.

Tidak sampai disitu, buku dengan ketebalan 132 halaman ini bagi saya cukup mudah dibaca dan dipahami meski masih menggunakan bahasa Melayu dalam penulisannya. Menarik, sungguh amat menarik bagi saya pribadi saat membacanya. Dan, Hamka selaku maestro pujangga, sukses membuat saya untuk membaca buku ini berkali-kali. Akhir kata, pesan saya sebelum membaca buku ini siapkan tissue dan beberapa cemilan ringan untuk sedikit meringankan hati.

Semoga bermanfaat. SALAM WARAS!

Ludy

Sharing is caring!

13 thoughts on “Review Buku: Terusir By Hamka

  1. Nggak dimana mana ya perbedaan strata kadang bikin orang nggak suka dan akhirnya memfitnah.
    Kalau fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan ia memang kudu dilawan dengan dukungan dan ketegaran ya. Mantap kak reviewnya.

  2. Dalem bgt ya isi surat2nya. Jd pengen baca apalgi membahas tentang adat minang, soalnya aku suka dg buku2 yg membahas atau bercerita dg latar suatu adat dan budaya. Hehe

  3. Tragis sekali. Sebegitu kejamnya sebuah fitnah yang total menghancurkan kehidupan seseorang. Benar rupanya jika fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

    Terima kasih sudah meriview buku yang membuat saya ingin juga membacanya.

  4. Serius banget Aku baca review buku ini wkwk berujung kepo deh dengan isinya. Terutama endingnya.

  5. Seru banget baca reviewnya.kisah tragis dengan latar belakang tradisi. Jadi penasaran baca bukunya pengen tau akhir ceritanya.

  6. Buku ini memang luar biasa, terutama untuk seorang perempuan. Nggak kebayang sih kalau jadi Marsiah, selama baca buku ini rasanya sulit untuk nggak nangis. Ceritanya menyayat sekali, sebagai seorang perempuan membaca buku ini dari awal rasanya pedih dan marah.

    Aku nggak tahu apakah di zaman sekarang masih ada yang bernasib seperti Marsiah atau nggak, aku berharap sih udah nggak ada ya. Ngebayanginnya aja nggak sanggup

Leave a Reply

Close
Social profiles
shares