Ancaman Kehidupan Dibalik Eksotisme Lahan Gambut

ekosistem-gambut

Gambut dengan karakteristiknya yang khas dan unik memiliki banyak manfaat bagi alam. Namun, di sisi lain juga menyimpan sejumlah ancaman bagi makhluk hidup di sekitarnya. Seperti apa? Ini dia, selengkapnya!

Butuh waktu ribuan tahun untuk membentuk gambut, namun hanya sesaat untuk merusaknya.

pantaugambut.id

Ancaman kehidupan dibalik eksotisme lahan gambut, seperti apa? Melihat hamparan gambut yang basah di pedalaman hutan Kalimatan, sesaat kedua mata saya dibuatnya terpukau dengan pemandangan gambut yang majemuk nan eksotis ini. Diketahui, asal muasal gambut ini sendiri terbentuk saat kondisi bumi yang tengah menghangat sekitar tahun 9.600 Sebelum Masehi. Dimana, jenis gambut yang terbentuk sekitar tahun tersebut ialah jenis gambut pedalaman.

Gambut dengan karakteristik dan kekhasannya yang unik ini pun menyimpan beragam keanekaragaman hayati, luasan karbon yang melimpah, serta fungsi hidrologi yang mampu menopang alam. Dimana, hal ini seharusnya menjadi sebuah siklus kehidupan yang baik, jikalau dijaga dan dikelola dengan benar. Namun, jika diperlakukan sebaliknya, justru hanya akan menuai ancaman kehidupan, yang naasnya dapat berdampak pada fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial.

Beruntung, pada pembahasan ini saya menemukan banyak sekali insight menarik dari pertemuan virtual bersama teman-teman Eco Blogger Squad dengan dua orang narasumber ahli, yaitu Lola Abas selaku Koordinator Nasional Pantau Gambut serta Dr. Herlina Agustin selaku Peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran. Selengkapnya, yuk kita simak!

Kenali Gambut Lebih Dekat

Diketahui, gambut sendiri terbentuk dari timbunan material organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, lumut, dan rerumputan, termasuk pula jasad hewan yang membusuk. Hingga kemudian, gambut ini dapat kita temukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, bahkan daerah pesisir sekalipun. Adapun ciri-ciri lahan gambut, bisa kita lihat pada gambar di bawah ini.

ciri-lahan-gambut

Perlu kita ketahui pula bahwa tingkat kedalaman gambut menentukan jumlah kandungan karbon dan jenis tanaman yang tumbuh di ekosistem ini. Dengan kata lain, semakin dalam lapisan gambut, semakin banyak pula karbon yang terkandung. Sehingga, jika gambut tersebut dikeringkan atau mengalami alih fungsi, emisi karbon yang dihasilkan akan semakin banyak.

Dari pantaugambut.id, lahan gambut ini pada dasarnya mampu menyerap karbon hingga 550 gigaton karbon atau setara dengan 30% karbon yang tersimpan di tanah di dunia. Itu artinya, lahan gambut ini memiliki kemampuan dalam menyerap karbon yang sangat besar. Indonesia pun sering disebut-sebut sebagai salah satu surga lahan gambut di dunia. Dikarenakan, lahan gambut di Indonesia mampu menyimpan karbon setidaknya 53-60 miliar ton karbon, otomatis membuat lahan gambut ini jadi sangat bernilai bagi Indonesia.

Menduduki peringkat ke empat sebagai lahan gambut terbesar dunia, nyatanya hal ini belum sepenuhnya dibarengi dengan pengelolaan yang efektif. Terlebih, dalam hal pelestarian keanekaragaman hayati yang menjadikan lahan gambut sebagai habitatnya. Tentunya, hal ini menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi hidup mereka di ekosistem gambut.

Lantas, ancaman apa saja yang dapat mengganggu siklus kehidupan di ekosistem gambut kita? Berikut, ini dia penjelasannya!

Ancaman Kehidupan di Ekosistem Gambut

Di ekosistem gambut kita dapat menemukan bermacam-macam kehidupan. Mulai dari masyarakat sekitar, hewan, serta tumbuhan yang menggantungkan hidupnya di ekosistem ini. Khususnya, fauna endemik yang hampir punah dan menjadikan lahan gambut sebagai habitatnya. Belum lagi, fungsinya dalam hal hidrologi guna mengendalikan banjir. Mengingat, gambut sendiri dapat menyimpan air hingga 13 kali dari bobotnya. Luar biasa bukan!

Namun sayang, faktanya sebagian besar lahan gambut di Indonesia rusak, lantaran sengaja dikeringkan, dirusak, lalu dialihfungsikan. Hal ini dapat kita amati dari berkurangnya luasan lahan gambut, yakni pada tahun 2011 diketahui luas lahan gambut sekitar 14,93 juta hektar, lalu turun 1,5 juta hektar pada tahun 2019 menjadi 13,43 juta hektar.

Kondisi ini jelas sangat mengganggu keberlangsungan makhluk hidup yang ada didalamnya. Alhasil, lahan gambut kini berada di bawah bayang-bayang ancaman yang merenggut paksa kehidupan. Bukan hanya bagi manusia, hewan, dan tumbuhan saja, tapi juga berlaku bagi semesta. So, ancaman seperti apa yang membayang-bayangi lahan gambut kita? Berikut pemaparannya!

Kebakaran Lahan Gambut

Hal ini kerap terjadi lantaran pengeringan gambut yang dilakukan secara sengaja oleh oknum tertentu guna pengalihan fungsi lahan. Akibatnya, tingkat kebakaran menjadi sangat tinggi. Fungsi penyerapan air pada gambut yang sangat kering akan sulit dilakukan karena dalam keadaan tersebut, gambut sudah tidak berfungsi sebagai tanah dan sifatnya sama seperti kayu kering. Otomatis, pada kondisi ini tentunya akan sulit dilakukan pemadaman.

Dampak lainnya, dari kebakaran gambut ini ialah seperti yang dijelaskan oleh Ibu Herlina, yakni hilangnya keanekaragaman hayati. Dimana, rusaknya ekosistem gambut ini dapat mempersempit ruang hidup satwa khususnya bagi fauna endemik yang jumlahnya semakin langkah, bahkan nyaris punah. Terlebih, keberadaan fauna yang tinggal di lahan gambut ini berperan penting dalam menjaga keberlangsungan hidup ekosistem gambut lainnya.

lahan gambut

Kabut Asap

Api yang menjalar ke bawah permukaan tanah menyebabkan pembakaran yang tidak menyala. Sehingga hanya asap putih yang tampak di atas permukaan dan menyebabkan kegiatan pemadaman kerap sulit dilakukan. Dampak buruknya ialah dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat sekitarnya, utamanya gangguan pernapasan.

Belum lagi, dampaknya pada pemanasan global dan perubahan iklim yang pemicu utamanya berasal dari tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida serta gas-gas lain ke udara dari terjadinya kabut asap ini.

Banjir

Hilangnya fungsi hidrologis pada gambut dapat memicu terjadinya banjir di atas lahan gambut atau daerah aliran sungai yang dapat mengancam keberlangsungan pertanian masyarakat sekitar. Tidak hanya itu, tragisnya lagi dapat mengganggu siklus serta aktivitas masyarakat lainnya yang hidup di sekitar lahan gambut.

Win-Win Solution…

Satu yang selalu saya bilang, kita harus melindungi yang masih tersisa, kemudian kita harus pulihkan yang rusak. Caranya dengan restorasi lahan gambut.

Lola Abas, Koordinator Nasional Pantau Gambut

Melindungi yang masih tersisa dan memulihkan yang rusak dengan merestorasi lahan gambut. Dimana, restorasi gambut ini sendiri bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut dan sejahterakan masyarakat. Upaya restorasi gambut dilakukan melalui tiga pendekatan, yakni pembasahan, penanaman ulang, dan merevitalisasi sumber mata pencaharian masyarakat setempat.

Maka, untuk mewujudkan restorasi gambut ini kita mesti mendorong pemerintah agar serius dengan komitmennya untuk perlindungan dan pengelolaan lahan gambut yang lestari. Sebagaimana upaya ini telah dituangkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 57 tahun 2016 jo PP No. 71 tahun 2014 tentang Perlindungan Total pada Hutan Alam, Lahan Gambut, dan Daerah Pesisir. Serta, Instruksi Presiden No. 5 tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut.

Jangan lupa juga, sebagai masyarakat yang peduli dengan kelestarian alam dan lingkungan, penting untuk selalu menyebarkan awarness tentang pentingnya lahan gambut dan konsisten menyuarakan isu perlindungan lahan gambut demi keberlangsungan hidup di bumi yang lebih baik.

Well, semoga rangkuman saya kali ini bermanfaat ya untuk teman-teman semua. Dilansir dari Mongabay, melestarikan hutan gambut artinya mencegah keluarnya karbondioksida ke dalam atmosfer untuk mengurangi dan mencegah perubahan iklim. Yuk, ambil bagianmu dari sekarang! Have a nice day, SALAM WARAS!

Ludy

10 thoughts on “Ancaman Kehidupan Dibalik Eksotisme Lahan Gambut

  1. semoga semakin banyak edukasi seperti ini ke masyarakat terutama di lokasi dekat lahan gambut ya.
    tidak hanya ke masyarakat sih tapi juga pemangku keputusan, agar tidak memberi ijin untuk pembangunan atau segala tindakan yang membuat kerusakan pada lahan gambut 🙁

  2. aku sedih lihat fotonya mba 🙁 setiap ada berita tentang kebakaran hutan itu gak tega banget mau baca atau nonton. bawaannya su’udzon mulu, karena seringkali faktor manusianya tuh terbukti banget

  3. Instrumen aturan sudah ada ya Mbak, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 57 tahun 2016 jo PP No. 71 tahun 2014 tentang Perlindungan Total pada Hutan Alam, Lahan Gambut, dan Daerah Pesisir. Serta, Instruksi Presiden No. 5 tahun 2019 tentang Penghentian Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Tinggal pelaksanaan aturannya nih mudah2an bisa terealisasi sesuai rule ya

Leave a Reply

Close
Social profiles